FIKSI

Aku benci durian
Aku baru saja tiba di ruang kerjaku, ruanganku bekerja bersama delapan orang teman satu divisi, saat cuping hidungku menangkap aroma yang sangat ku benci.
Bagi para pecintanya mungkin durian memang buah raja. Buah yang paling enak dari semua buah. Tapi ngga buatku.
Sekali aromanya tercium indra penciumanku, maka sensasi itu akan terus merasuk ke dalam tubuhku. Mulai dari kepala sampai ujung kaki akan terasa lemas, tulang-tulangku terasa lemah tak berdaya, dan sepertinya aku jadi tak bersemangat bekerja.
Mereka sudah tahu aku tak suka, tapi mengapa masih saja ada yang membawa buah itu ke tempat kerja. Huffth ... rasanya ingin putar badan dan kembali ke rumah.
"Siapa sih yang bawa durian, San?" Tanyaku pada Sandra sambil menutup hidungku dengan ujung kerudung.
"Sengaja ya duriannya ke sini? Sudah bosan ya lihat aku masuk kerja tiap hari?! Jadi sengaja bawa durian ke sini," aku berkata dengan nada tak suka.
"Ya ngga gitu dong, Ra. Karin yang bawa durian itu karena dia punya pohonnya di rumah dan sedang berbuah lebat. Tapi sayangnya di rumahnya tak ada saudara dekat yang bisa membantu menghabiskan. Jadi Karin berinisiatif berbagi dengan teman-teman di sini." Sandra menjelaskan padaku.
"Oh gitu .." rasanya aku udah tak punya daya untuk mendebat lagi.
Dengan langkah tak bersemangat aku berjalan menuju meja kerjaku.
Ya ampun rasanya ... bau itu masih saja menguar di udara. Mau pakai masker tapi aku tak bisa. Aku seperti tak bisa bernafas kalau pakai masker, tapi aku pun tak nyaman dengan bau ini. Rasanya lemas, pengen nangis dan gak bisa fokus bekerja.
Sampai jam istirahat tiba, teman-teman memulai acara menikmati durian di ruangan, setelah semua jendela ruangan di buka.
Dan aku memilih mengungsi sementara. Aku habiskan jam istirahatku di luar ruang kerjaku dan berharap bau itu sudah menghilang saat jam kerja dimulai lagi.
"Ra, maafin aku ya," Karin mendekatiku.
"Maaf buat apa?" Aku menjawab antara mau dan tidak mau menjawab.
"Aku ngga tahu kalo kamu ngga suka durian," sesal Karin.
"Kalau kamu mau tahu ya .. bau durian itu bisa membuatku seperti orang sakit, Rin. Kepalaku pusing, tulang-tulangku rasanya lemas semua!" Aku menjelaskan apa kurasakan karena aroma buah itu.
"Ra, sekali lagi aku minta maaf ya. Dan sebagai permintaan maaf, ku harap kamu mau menerima buah durian yang sudah aku siapkan buat kamu. Kalau kamu tidak bisa menerimanya, mungkin kamu bisa bawa pulang durian itu ke rumah dan berikan pada orang lain."
"What?!" Aku terbeliak mendengar ucapan Karin.
**end**

0 komentar:

Posting Komentar