Belajar Prosa Liris

Aku dan Rinai Hujan
Oleh: Yuliani

Rinai hujan serupa aliran air yang menganak sungai dari pelupuk mataku. Deras dan dingin. Ketidaksetiaanmu bagai sembilu yang menghujam jantungku. Luka, berdarah, tapi tak kasatmata.
Janji seia sekata hanya di bibir saja, laku manis terlihat di awal cerita. Muak!

Jangan kau tawarkan payungmu itu. Karena aku tak butuh. Payung cintamu telah terkoyak, rusak parah. Tiada sesuatu pun yang bisa mengembalikan wujud aslinya.
Tak perlu juga kau memintaku berteduh. Karena kau, bukan lagi rumah tempat ku pulang.

Biarkan aku bersama rinai hujan. Bersama genangan dan kenangan yang tercipta dari setiap tetesnya hujan … dan air mata.  Tak usah hiraukan aku.
Aku hanya ingin sendiri.

Purbalingga, 27 Agustus 2018

Sumber gambar: https://goo.gl/images/9pQmXY

0 komentar:

Posting Komentar