Jari Manis Bercincin

Oleh: Yuliani


Namanya Nawang Kusumaratih, tapi orang-orang biasanya Nawang Kikuk. Kenapa? Iya, karena gadis manis berambut panjang itu gampang sekali panik, canggung, dan hal itu sering berakibat fatal. Semua pekerjaannya hampir tidak pernah bisa selesai sempurna. Dia rendah diri, berjalan pun menunduk, berbicara dengan orang juga tak berani menatap mata.
Hari itu Nawang baru saja selesai berbelanja di pasar tradisional dekat rumah. Belanjaannya banyak. Dua tangannya menenteng tas belanjaan yang sarat muatan. Dia berjalan menunduk menuju pintu keluar pasar saat ada seorang pemuda bertato ular di lengan tangannya, menyapanya.
"Nawang Kikuk, temenin Abang di sini, yuk."
Nawang yang kaget karena tiba-tiba disapa pemuda asing sontak panik. Dia berusaha berjalan dengan cepat tanpa melihat kondisi jalan. Nawang terpeleset, isi tas belanjaannya berhamburan di jalan. Beruntung ada Mas Rafi, teman kerja Nawang datang membantu. Lelaki berkumis tipis itu membantu Nawang membereskan barang belanjaannya yang tercecer.
"Makasih banyak ya, Mas. Maafkan Nawang sudah merepotkan Mas Rafi," ucap Nawang sambil terus menunduk.
"Gak apa-apa, Nawang. Namanya teman kan memang harus saling membantu," jawab Mas Rafi sambil memindai Nawang dari ujung kaki sampai kepala, "aku anterin pulang ya, Na," lanjut Mas Rafi.
Kedua tas belanjaan Nawang sudah diambil alih Mas Rafi. Mereka berjalan bersisian menuju ke rumah Nawang yang terletak di pinggiran kota, agak terpencil dari keramaian.
"Mas, mampir dulu yuk! Aku punya kopi di dalam rumah. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena Mas Rafi sudah bantuin aku hari ini," ucap Nawang sesampainya mereka di depan rumah Nawang.
"Dengan senang hati, Na." Mas Rafi melengkungkan bibirnya menerima ajakan Nawang.
Pemuda berkumis tipis itu dipersilakan duduk di ruang tamu rumah Nawang. Ruangan berdinding tinggi dan bercat abu-abu dengan hiasan kepala harimau di salah satu sisi dindingnya menambah kesan mistis. Tidak ada foto keluarga, tidak ada pula vas bunga di atas meja. Suram dan dingin. Begitu kesan pertama yang ditangkap Mas Rafi.
"Diminum dulu kopinya, Mas." Nawang membawa dua cangkir kopi dari dapur, dan menyerahkan salah salah satu cangkirnya kepada Mas Rafi.
"Rumah kamu besar juga ya, Na. Anak orang kaya pasti nih ...," ujar Mas Rafi, "nggak takut tinggal sendirian, Na?" sambung lelaki itu sambil menyesap kopi hitam dari Nawang.
"Nggak juga lah, Mas. Aku beli rumah ini kan karena lokasinya dekat dari tempat kerja. Terus, aku betah di rumah ini karena di sini ada ruang khusus tempat ku menyimpan semua koleksi-koleksiku." Nawang menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya.
'Wah, keren banget nih gadis. Anak orang kaya dan kolektor pula,' batin Mas Rafi.
"Kamu koleksi apa saja, Na?" Lelaki berkumis itu benar-benar penasaran.
"Banyak, Mas. Ada jari tangan, telinga, jempol kaki, dan yang paling aku suka jari manis lelaki yang memakai cincin." Nawang menjelaskan pelan, tapi masih bisa didengar Mas Rafi.
"Maksud kamu itu semua bagian tubuh ma.nu.sia ...," belum sempat Mas Rafi menyelesaikan omongannya ketika kepalanya terasa berat dan akhirnya dia tak sadarkan diri.
**
Mas Rafi tersadar saat tercium olehnya bau amis dan anyir di ruangan berdinding hitam itu. Dia terduduk di sebuah kursi kayu jati dengan posisi tangan terikat kencang pada lengan kursi. Sangat kencang. Bahkan Mas Rafi tidak bisa menggerakkan tangannya sedikit pun.
"Na, ini semua apa?" Mas Rafi bertanya kepada Nawang yang sedang berdiri membelakanginya menghadap sebuah meja panjang dengan deretan toples-toples kaca di atasnya.
Nawang membalikkan badan, "kamu mau tahu koleksiku kan, Mas? Ini lihat semua!" teriak Nawang sambil menunjukkan toples-toples itu.
"Kamu tahu? Ini adalah jari manis mantan tunanganku. Dia selingkuh dengan sahabat baikku." Nawang mengangkat satu toples bertuliskan BANU, mantan tunangannya.
"Kamu gila, Na ...," ucap Mas Rafi lirih.
"Kamu yang gila, Mas. Aku tahu sedari tadi matamu menatapku penuh nafsu. Aku tahu kamu tertarik juga dengan hartaku kan?" Nawang masih berteriak keras.
"Aku mau kamu bernasib dengan itu ... itu ... itu semua...," pekik Nawang sambil menunjuk-nunjuk toples-toples di atas meja.
"Na, jangan. Sebentar lagi aku akan menikah," cicit Mas Rafi.
"Tadi kamu bahkan tak ingat ada cincin tunangan di jari manismu, Mas. Kenapa? Apa tadi aku terlihat menggodamu, hah?" Nawang berkata perlahan, "di mana pemuda kuat yang tadi membantuku membawa tas-tas belanjaan sialan tadi?"
Mas Rafi mencoba beringsut tapi tak bisa. Ikatan di pergelangan tangan dan kakinya sangat kencang membalut kulit.
"Sekarang giliranmu, Mas Rafi. Jari manismu yang bercincin itu akan jadi koleksi jariku yang ke tujuh," seringai Nawang.
"Jangan, Na ... jangan ...," teriak Mas Rafi kencang.
"Silakan teriak sekencang-kencangnya, Mas. Ruangan ini kedap suara. Jadi, tidak akan ada yang bisa mendengar suara sumbangmu itu," teriak Nawang lagi, "nikmatilah pertunjukan ini, Mas. Aku mau bermain-main dulu denganmu." Nawang menumpukan satu tangannya pada ikatan tangan Mas Rafi di lengan kursi, sementara itu sebelah tangannya yang bebas mengeluarkan pisau lipat dari saku bajunya.
"Bersiaplah, Mas Rafi," bisik Nawang di telinga lelaki itu sambil menyeringai kejam.
Nawang mengarahkan pisau lipat mengkilatnya pada jari manis Mas Rafi.
**end**

1 komentar: