Arjuna Tampan


Oleh: Jullie Yuli


Memang lagi tamvan, aku memang lagi tamvan
Tamvan tamvan gini, kamu masih nggak mau
Memang kamu syantik, kau benar-benar syantik
Syantik syantik sayang, kita cuma temenan
.
.
.
.

Tahu lagu balasannya Lagi Syantik? Itu lho, yang judulnya Lagi Tamvan. Cocok banget sama keadaanku saat ini. Jomblo tapi ngenes, gara-gara cintaku ditolak sama kembang desa paling aduhai, Alika Hayfa. Tapi tenang saja, aku kan pejuang tangguh. Aku bakal berusaha terus sampai Alika mau denganku.
Kenalin, aku Arjuna. Lelaki paling tampan di desa Sukmajaya.

**

Berada di tengah area persawahan sungguh merupakan satu kebahagiaan yang hakiki bagiku. Menikmati indahnya langit cerah tanpa awan, padi yang menguning, dan juga kawanan burung pipit yang beterbangan ingin mencecap bulir padi, ah rasanya damai sekali. Desir angin rasanya mampu mengantarkan pesan-pesan cintaku kepada Alika.

Bukan gombal, tapi aku cuma mau mengungkapkan isi hati. Toh aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata, takutnya saat aku melepaskan untaian kata-kata puitis, dia bakalan gumoh. Eh tapi, kayaknya Alika memang bisa dengar pesan cintaku deh, buktinya itu dia sedang berjalan menuju ke sini.

"Jun, Juna!" teriak Alika dari kejauhan.

Kulihat Alika bergegas menghampiriku di gubug kecil buatanku dan bapak, di pematang sawah. Ada Cici, sahabat baiknya sekaligus berperan sebagai body guard-nya Alika berjalan di belakangnya. Postur tubuh Cici itu seperti Aprilia Santini Manganang, atlet voli putri nasional Indosia. Tinggi, besar, dan tampan, padahal perempuan. Mereka saudara sepupu, tapi jelas sekali terlihat perbedaan fisiknya berkebalikan. Dan aku pilih Alika. Yes.
"Iya, Lika. Sini!" Aku merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Tapi bukannya masuk ke dalam pelukanku, Alika malah memukul lengan tanganku kencang.

"Aduh! Tanganmu beneran kaya tangan tukang pukul ih. Sakit tahu, Lik!" seruku sambil mengusap-usap bekas pukulan Alika.

"Kamu gitu sih, Jun! Kita kan belum mahram."

"Belum mahram kan ada kemungkinan bisa jadi mahram, Lika sayang. Nunggu apa lagi sih? Lihat aku lagi dong, sudah tampan, wangi, baik hati, nggak sombong dan suka menabung. Kurang apa lagi coba?" Aku masih terus berjuang mempromosikan diri.

"Iya, kamu memang tampan. Tapi ... kamu ... panuan. Maaf ya, Jun. Kamu sembuhin dulu panunya, nanti baru deketin aku lagi." Jawaban Alika sungguh membuatku malu. Ingin segera kubenamkan mukaku ke kali kecil di pinggir sawah.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day4
#CoretanJullieYuli





0 komentar:

Posting Komentar