Bayang Masa Lalu


Oleh: Jullie Yuli

Lelaki tua itu baru saja tiba di taman kota saat tengah hari. Keriput menghias wajahnya. Tak ada senyum. Hanya guratan di dahi yang tampak semakin jelas menandakan sedang berpikir keras. Lelaki tua itu Gunarto.

Lelah begitu terasa olehnya. Perjalanan panjang dengan berjalan kaki ditempuhnya untuk pulang ke kampung halaman. Tanpa ada yang menemani dan tanpa bekal yang memadai. Demi menemui Arina, buah hati semata wayang yang telah lama ditelantarkannya.

Ingatannya mengembara di banyak tahun yang lalu .... saat Arina masih duduk di bangku SMP.

"Bapak mau menikah lagi, Na," Gunarto mendekati Arina. "Sama Jeng Marni, yang tinggal di dekat Pasar Manis," lanjut Gunarto.

Arina menghela nafas kasar.

"Oh, yang temannya Bu Tijah itu ya, Pak?" Arina menyebutkan nama pemilik warung nasi di dekat rumah mereka. "Marni yang punya anak dua itu kan, Pak? Harus ya, Pak buru-buru gitu? Memangnya Bapak udah tahu banyak tentang orang itu? Kelihatan banget tuh matanya jahat. Arina gak mau punya ibu tiri kayak dia." Arina yang sedikit tahu tentang kehidupan Jeng Marni tak mampu lagi meredam emosinya.

"Dengarkan Bapak ya, Na! Dengan atau tanpa persetujuan kamu, Bapak akan tetap menikah lagi," jelas Gunarto berapi-api.

"Terserah Bapak kalau begitu! Yang jelas Arina gak mau tinggal bareng orang itu. Arina mau sama Bulik Yanti aja." Arina segera meninggalkan rumah dengan marah.

Dan Gunarto tetap menikah. Semakin hari istrinya semakin membatasinya bertemu Arina. Bahkan memberi uang untuk makan Arina pun tidak bisa. Semua uangnya dipegang Marni, bahkan tidak ada yang tersisa dari gajinya setiap bulan untuk anaknya.

Gunarto nelangsa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seperti ada sesuatu yang mengendalikannya. Entah kekuatan apa. Kadang dia bisa marah dengan begitu hebatnya pada Arina tapi kadang menunjukkan sisi tak berdaya.

**

"Bapak tinggal sama Arina saja. Buat apa tinggal sama orang itu, toh Bapak gak diurusin. Minum bikin sendiri, makanan gak disiapin. Bapak tuh cuma disuruh bayarin hutang-hutangnya aja. Mau banget digituin terus dari dulu," Arina mencoba membujuk Gunarto saat bertemu di rumah Bulik Yanti.

Tapi Gunarto menolak keinginan Arina. Tak menghiraukannya sama sekali.

Keyakinan Arina benar adanya, istrinya bukan orang baik. Setelah dia tak bisa lagi bekerja, sang istri bertindak lebih semena-mena pada Gunarto. Bahkan sampai mengusir dari rumah kontrakan mereka.

Gunarto memutuskan untuk menemui putrinya. Menahan egonya untuk tidak mengemis belas kasih dari Arina. Tapi apa daya, setelah sampai di kampung halaman baru diketahuinya kalau Arina sudah tidak tinggal di sana. Putri semata wayangnya dibawa suaminya tinggal ke luar negeri.

Kini hanya tinggal penyesalan berkecamuk di pikiran Gunarto. Salahnya lah tak mau mendengarkan ucapan Arina dan keluarganya yang lain. Salah dirinya juga yang tetap mau mempertahankan hubungan dengan wanita itu. Tinggal lelah yang terasa. Lelah yang teramat sangat.

Masih di bangku taman kota, Gunarto mengeluarkan botol kecil dari saku jaketnya. Dituangkannya pil-pil kecil itu ke tangan kanannya. Segera dia minum semuanya.
Dia sangat ingin beristirahat. Tidur selamanya.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6

#Day21

2 komentar: