BINTANG PENTAS


Oleh: Jullie Yuli

Saya sang bintang pentas
Bekerja bila malam tiba
Malam kujadikan siang
Siang berlalu penuh mimpi

Dari pentas satu ke pentas yang lain
Aku nyanyikan suara hati
Suara hati para pemirsa yang baik
Bukan kasih dan sayang
Kasih dan sayang untukku

Lagu terakhir sudah selesai kunyanyikan. Aku segera beranjak ke belakang panggung di mana suamiku yang paling tampan sudah menungguku.

“Sudah lama nunggunya, Mas?” tanyaku sembari mencium punggung tangannya lembut.
“Enggak kok, Yang. Belum ada sepuluh menit aku di sini.” Mas Didi mengecup keningku perlahan dan membimbingku duduk di salah satu kursi berkaki tinggi di belakang panggung.

“Kalau masih capek ya istirahat dulu sebentar, Yang. Nanti baru kamu ganti baju dan kita langsung pulang ke rumah,” kata Mas Didi, “ibumu sudah sampai di rumah lho, Yang, diantar pakde Ali tadi,” lanjutnya.

Mendengar suamiku menyebutkan ibuku sudah ada di rumah membuatku segera bergegas pulang. Tapi sebelum itu aku harus mengganti kostum panggungku dulu. Aku tahu ibu pasti marah-marah lagi mengetahui aku masih manggung sampai saat ini. Jadi meski pakaianku masih tergolong sopan dan aku pun tak bergoyang menggoda, ibu tetap tidak suka.

“Deva, kamu ini sudah menikah, suamimu pun berpenghasilan lebih dari cukup buat menghidupi kamu. Kok ya masih mau-maunya manggung tho, Nak. Jadi istri itu harus bisa menjaga kehormatan suami, lha kalau kamu masih saja nyanyi dari panggung ke panggung bukannya itu bakal bisa membuat suami kamu malu.” Kalimat itu terus yang selalu ibu gaungkan kalau berkunjung ke rumahku. Padahal menerima tawaran manggung pun aku selalu meminta persetujuan  mas Didi.

Mas Didi tidak pernah menghalangi kegiatan menyanyi dangdutku. Selama pekerjaan domestik rumah tangga beres semua, dia tak masalah. Dia selalu ada untukku dan mendukung semua aktivitasku. Pokoknya lope lope dah ....

“Yang ... sayang … Devana Kharisma,” panggil mas Didi sambil mengibaskan tangannya di depan mukaku.

“Eh, iya, Mas. Maaf ….” Aku tersentak mendengar panggilan suamiku. Ternyata kehadiran ibu cukup mengusik pikiranku.

“Yuk, pulang,” ajaknya sambil menggandeng tanganku.

Aku terdiam dalam perjalanan pulang, dan sepertinya mas Didi pun mengerti. Pembicaraan dengan ibu sering kali membuat mood-ku berantakan.

“Mas, aku mau ngomong sebentar. Boleh?” tanyaku sambil menggengam tangan mas Didi yang bebas. Dia langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan.

“Ada apa, Yang? Pasti tentang ibu?” tebak mas Didi. Tangannya yang mengusap-usap rambutku seolah-olah menenangkanku.

“Bukan, Mas. Ini tentang aku.” Mas Didi memutar bahuku agar wajahku berhadapan langsung dengannya.

“Kamu kenapa, Yang?” tanyanya kemudian.

“Mas Didi nyaman enggak kalau aku masih manggung? enggak mau menuntut aku jadi ibu rumah tangga sepenuhnyakah?” tanyaku serius.

“Devana sayang, aku kenal kamu itu setelah kamu terlebih dahulu kenal dunia pentas dangdut. Selama kamu suka dan tetap menjaga batasan pergaulan, aku setuju saja. Aku percaya kamu, Yang,” jawab mas Didi, “tapi, kalau kamu sudah memutuskan sendiri dari lubuk hati kamu yang terdalam mau lepas dari dunia panggung, aku juga lebih setuju,” lanjutnya lagi.

“Iya, Mas. Pelan-pelan dulu ya. Toh aku juga sudah mengurangi jadwal manggung semenjak menikah. Insyaallah kalau kita diamanahi momongan, aku akan fokus pada keluarga. Dukung aku terus ya, Mas.” Aku memeluk lengan mas Didi dan dia balas mencium puncak kepalaku.

“Otomatis, Yang,” jawabnya sambil mengacungkan ibu jari.
 “I love you more than you know, Devana. Yuk pulang, sudah siap bertemu ibu kan?” ajaknya.

“Love you too, Mas. Yuk!” Rasanya aku lebih bersemangat kali ini. Suntikan support dari suamiku benar-benar mampu mengatasi badmood-ku.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day16

2 komentar:

  1. Wadduh mana aku jomblo lagi,masalah percintaan romansa dewasa, ngeri-ngeri sedap, hehehe

    BalasHapus