Cintaku Berhenti di Kamu


Oleh: Jullie Yuli

Aku sudah berubah. Gadis berkepang dua dengan kacamata berlensa tebal di matanya, sudah tidak ada lagi. Pakaian lusuh yang dulu selalu dipakai juga berubah. Iya, ulat jelek yang sering dipandang sebelah mata telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu ayu.

Sejak aku berteman dekat dengan Nadira, sedikit demi sedikit aku mulai memperhatikan penampilanku. Aku yang semula cuek, sekarang mulai merawat wajah dan tubuh. Pakaian lusuh dan kepangan rambut yang menjadi ciri khasku sudah kutinggalkan.

"Rambutmu lebih bagus diurai lho, Ta. Kasihan tuh rambutnya, setiap hari dikepang-kepang terus seperti ini. Kan jadi nggak bisa bernapas rambutnya," kata Nadira seraya melepaskan ikatan rambutku.

"Beneran kelihatan bagus, Nad? Aku nggak percaya diri tahu, rambutku ikal begini." Aku menunduk sambil memainkan ujung rambutku.

"Ya elah, beneranlah. Asli, aku nggak bohong," jawab Nadira sambil menyisir rambutku.

"Oya, Ta. Aku minta tolong ketikkan nama-nama tamu undangan pernikahanku ya. Daftar namanya ada di amplop coklat di atas nakas tuh. Rencananya undangan mau dibagi sepuluh hari menjelang hari H." Aku memutar kepala, pandangan mataku tertuju ke atas nakas di samping tempat tidur Nadira. Amplop itu berada di sebelah vas bunga dan tumpukan novel koleksi Nadira.

"Oke, siap." Aku mengacungkan ibu jariku mantap.

**

Aku sedang bersiap ke rumah Nadira saat hari sudah menjelang senja. Di luar rumah, rintik bening membasahi bumi setelah kemarau lama. Ah, rasanya aku enggan beranjak dari kamarku ini. Menikmati derai hujan serta aroma 'petrichor' sungguh membuatku hanyut.

Getar gawai di atas meja membuyarkan lamunanku. Ternyata ada Nadira yang mengirim pesan.

[Ta, jadi ke rumahku kan?] tanya Nadira.

[Jadi dong, Nad. Tapi di sini masih hujan, aku tunggu reda baru jalan ke rumahmu.] Aku memperhatikan rinai hujan yang tampaknya masih enggan mereda.

[Kamu tunggu saja di situ, Ta. Sebentar kakak sepupuku jemput kamu. Tenang saja gak bakal kehujanan, dia bawa mobil ini.]

[Lah, nanti malah merepotkan. Aku berangkat sendiri saja, Nad.] Aku ingat Nadira pernah bercerita sekilas tentang kakak sepupunya yang tinggal di Semarang tapi aku tak memperhatikan. Entah seperti apa orangnya.

[Sudah! Duduk manis saja di situ. Kak Nino on the way.]

Aku mendesah pelan, kututup aplikasi pesan di gawaiku sambil memandang jalanan di depan rumah.

Tak berapa lama, sebuah mobil Innova silver berhenti di depan rumahku. Sesosok tubuh jangkung keluar dari mobil dengan gagahnya. Ya ampun, aku sampai lupa berkedip melihatnya. Tubuh setinggi kira-kira 180 cm itu mengalihkan pandanganku. Wajahnya rupawan dengan cambang tipis dan tatap mata setajam elang. Celana chino warna krem dan kemeja kotak-kotak biru navy terlihat sangat pas membentuk tubuhnya.

'Tenang ... tenang, Aletta,' batinku.

"Assalamu'alikum. Benar ini Aletta? Saya Elnino, kakak sepupunya Nadira." Kak Nino mengulurkan tangannya menyalamiku.

"Wa ... wa'alaikum salam, Kak. Iya, saya Aletta," jawabku gugup. Rasanya aku bagai tersengat listrik ribuan volt, wajahku terasa panas dan jantungku berdetak liar saat telapak tangan Kak Nino bersentuhan denganku. Ah, inikah yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?

"Ayo, kita langsung saja. Nadira sudah menunggu di rumah," ajak Kak Nino.

Kami terdiam selama perjalanan. Kak Nino tak membuka percakapan, sementara aku telanjur membeku. Bibirku kelu, badanku bagai terpaku, hanya sudut mataku yang bergerak melirik Kak Nino, malu-malu. Dalam hati aku berdoa, 'Ya Allah, jika benar dia jodohku maka mudahkanlah jalan kami.'

Setibanya di rumah Nadira, seorang anak kecil menyambut kedatangan kami.

"Papa, papa dari mana? Kok Evan ditinggal sendirian di sini," rajuk anak kecil itu sambil memeluk lengan Kak Nino.

Aku kembali terdiam, lututku rasanya lemas mendengar ucapan anak kecil itu. Aku ingin menangis ....

**end**

Sumber gambar: pixabay.com, edited by canva

#TantanganODOP1
#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day9

0 komentar:

Posting Komentar