IVANA MARINKA


Oleh: Jullie Yuli

"Tidaaaak ...!!"

Aku langsung terbangun dengan napas tercekat. Keringat mengucur deras. Tubuhku menegang seketika. Kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku seperti melihat sendiri kejadian itu. Anak kecil itu, sepertinya aku mengenalnya . Jeritannya yang berulang-ulang membuatku semakin menegang.

Gambaran itu kerap muncul di mimpiku akhir-akhir ini. Anak kecil berambut pirang sebahu itu didudukkan pada sebuah kursi tinggi dengan kedua tangan dan kaki terikat. Matanya menatap penuh permohonan tetapi lelaki bertubuh tinggi besar di hadapannya, mengabaikannya. Pisau tajam mengkilat diarahkan ke leher kecilnya.

"Rasakan anak kecil, sekarang kau akan bernasib sama seperti anakku. Papamu telah menghilangkan nyawa anakku. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi," katanya penuh penekanan.

"Enggak mungkin papa seperti itu, papaku seorang dokter. Pasti dia akan menyelamatkan orang, papa enggak mungkin membunuh." Anak kecil itu menangis tersedu. Dia berusaha menyakinkan lelaki dewasa yang berdiri di depannya.

"Bersiap-siaplah, Anak kecil," seringainya kejam seraya menekankan pisau tajam itu pada kulit leher anak kecil itu hingga tergores.

"Tolong ...!"
"Papa ...!"
"Bunda Maura ...!"

Teriak anak kecil itu berulang dengan suara yang menyayat hati. Tapi tunggu, kenapa dia memanggilku. Padalah aku bukan ibunya.

Aku berusaha kembali pada alam sadarku. Kuembuskan napas panjang. Tubuhku mulai mengendur. Hanya deru nafasku yang kudengar sendiri. Debaran jantungku pun tidak lagi sekencang tadi.

Aku berjalan perlahan menuju kamar kerjaku sambil berusaha mengingat-ingat wajah anak itu. Kubuka file-file anak didikku di TK Harapan Kita, tempatku mengajar. Kulihat foto anak itu, ada nama tertulis di balik foto. IVANA MARINKA.

**

Aku mengikuti gambaran yang muncul di pikiranku. Bersama beberapa orang polisi dan dokter Wijaya, papanya Ivana, kami bergerak menuju rumah kosong di pinggiran kota.
Rumah itu berdiri jauh dari pemukiman penduduk. Dikelilingi pepohonan rindang, tak akan ada yang mengira kalau di dalam rumah itu ada seorang anak perempuan disekap dan diperlakukan sadis.

Polisi bergerak serentak dari berbagai penjuru. Mereka merangsek maju. Tak berapa lama terlihat seorang polisi membawa seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan tangan terborgol. Dia terlihat mabuk, mungkin karena itulah dia bisa dengan mudah diringkus.

Aku berlari mengikuti dokter Wijaya menuju satu ruangan di rumah itu. Ruang tempat lelaki itu mengeksekusi Ivana. Tapi, aku tak melihat Ivana di kursi tinggi seperti di mimpiku.

Pandangan mataku tertuju ke seonggok karung yang menggembung di pojok ruangan. Kuberanikan diri mendekatinya.

"Dok, coba ... kita lihat apa isi karung ini?"  Aku berkata putus asa. Dokter Wijaya mengangguk lemah.

Sudah tertebak kalau yang di dalam karung itu pasti Ivana. Tapi aku penasaran dengan kondisi terakhir anak dokter Wijaya itu.

"Aaaaaa ...!"

Aku terduduk lemas melihat Ivana dengan luka menganga di lehernya.

**end**

#TantanganODOP_3
#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day23

2 komentar:

  1. Keren imajinasinya mba. Aku tuh gak pandai berimajinasi, tiap mau bikin cerita fiksi mentok di imajinasi. Gak ada ide. Hahaha. *kapan aku bisa ngefiksi kayak gini ya* 😥

    BalasHapus
  2. Banyakin baca, Mba. Trus coba tuangin di tulisan kita.
    Ini juga masih perlu banyak belajar. Emak-emak rempong, nulisnya sesempetnya.😅

    BalasHapus