Rahasia Purnama


Oleh: Jullie Yuli

'Lari! Lari! Lari!'

Aku berlari sekencang mungkin. Sekuat tenaga kumenghela kaki-kakiku. Tapi, suara samar perempuan itu masih saja mengiringi.

"Jojo ... Tunggu aku, Jo ...."

'Jangan menoleh! Jangan menoleh ke arah manapun, Jo!' batinku sambil tersengal. Aku terus berlari. Lari kencang. Abaikan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Abaikan semua rintangan.

Aku hanya perlu memperhatikan arah. Lompati setiap akar yang melintang. Hindari ranting rendah yang menghadang jalan. Aku berlari seraya merundukkan badan.

"Jojo ... jangan tinggalkan aku, Jo ...." Suara rendah perempuan itu terdengar di telingaku lagi. Aku tahu suara siapa itu. Suara perempuan yang terobsesi kepadaku. Perempuan cantik, kaya, yang mampu menggunakan segala cara agar aku memilihnya sebagai kekasih. Aku benci dia. Iya, dia. Miranda.

Aku sangat lelah. Napasku tersengal. Rasanya jantungku akan terlontar ke luar dari ragaku. Keringatku mengucur deras. Aku seperti ikan yang terus menggelepar merindukan air. Sangat payah.

Tubuhku pun akhirnya merosot. Aku terduduk di akar pohon. Lunglai. Embusan angin yang merengkuh tubuhku membuatku menggigil, tapi di keremangan malam dengan setitik cahaya bulan purnama, aku bisa melihat berdiri di sana.

"Jo, kenapa berlari? Kenapa menghindar lagi?" tanya Miranda sambil menatapku. Sinar matanya terlihat sendu kali ini.

"Ma ... mau apa kau, Miranda?" Aku terbata, aku masih belum bisa mengontrol napasku.

"Aku capek kamu jadikan bulan-bulananmu terus. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Purnama," jawabku putus asa.

Aku sudah hilang semangat. Purnama, kekasihku, yang ternyata juga saudara tiri Miranda, menghilang. Hilangnya Purnama malah membuat Miranda semakin menjadi mengejarku. Tidak ada rasa sedih sedikit pun di wajahnya dengan menghilangnya adik tirinya itu.

Iya, Purnama adalah perempuan pertama yang aku kenal di kota ini. Wajahnya ayu memesona dengan lesung pipit di pipi kanannya. Tutur bicaranya lemah lembut, dan aku suka itu. Aku mencintainya dari awal berjumpa.

"Kamu mau Purnama kan, Jo? Oke, aku tak akan menghalangimu lagi dengannya.  Lihat di sebelah sana! Kamu lihat?" tunjuk Miranda ke satu arah.

Aku melihat Purnama di bawah sinar bulan purnama. Cantik sekali, seperti biasa. Rambut panjangnya bergerak tertiup angin. Aku segera beranjak, lalu berlari kecil menghampirinya.

Aku memeluknya erat. Dia pun membalas pelukanku. Sungguh rindu ini bagai menemukan penawarnya. Kami terhanyut.

Kurasakan Purnama berjinjit. Kepalanya berada di ceruk leherku. Aku bisa merasakan embusan napasnya. Menggelora.

Aku seperti tersadar, saat kurasakan gigi-gigi tajam menyentuh kulit leherku, aku terkesiap. Terlihat Purnama menatapku sambil menyeringai menakutkan.
Dan dengan ekor mataku, aku melihat Miranda bergerak cepat menuju ke arahku dan Purnama berdiri, dengan gigi taring runcing tajam siap menerkam.

**end**
Purbalingga, 14 September 2018

Sumber gambar: Pixabay.com, edited by Canva

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day12

0 komentar:

Posting Komentar