Belajar dari Toilet



Oleh: Yuliani

Burung jalak burung betet
Hinggap bersama di pohon mahoni
Emak-emak, apa kabar toilet?
Sudahkah dibersihkan hari ini?

Apa? Kok pertanyaannya begitu?

Iya memang. Toilet sebagai tempat istimewa, tempat yang dipandang kotor tapi semua orang mengunjunginya. Tidak pandang bulu, mau yang muda, yang tua, yang miskin atau berada semua menggunakan toilet. Yang membedakan mungkin bentuk fisik dan kemampuan materi si empunya saja.
Benar?

Penampakan toilet juga mencerminkan pemiliknya. Toilet yang bersih menandakan pemiliknya yang gemar menjaga kebersihan, begitu juga sebaliknya. Mungkin terlihat sepele, tapi dari hal-hal kecil seperti ini bisa dijadikan bahan acuan bersikap menghadapi sesuatu yang lebih kompleks.
“Toilet aja rajin dibersihin, apa lagi hati. Pasti lebih terjaga kebersihannya bukan?”

Maka dari itu kita tidak perlu gengsi, tidak usah jijik dan jangan malas untuk membersihkan toilet. Sembari membersihkan badan, menunduklah sebentar. Ambil sikat kamar mandi dan media pembersih (maaf tidak sebut merek), lalu ayunkan lengan. Gosok-gosok dengan tenaga. Bersihkan semua kotoran, hancurkan semua kerak membandel. Hiyaaa!

Kegiatan membersihakan toilet bisa juga berfungsi untuk menyalurkan emosi kita. Seperti samsak yang digunakan untuk berlatih tinju, membersihkan toilet sekuat tenaga juga bisa jadi pelepasan suasana hati kita yang sedang buruk. Dan sesudahnya toilet kita bersih, hati pun sedikit lega.

Trus ada lagi nih. Sudah tahu kan keutamaan sedekah? Sedekah materi khususnya. Di sini kita bisa menerapkan filosofi membuang hajat di toilet sebagai inspirasi lho.

Saat kita kebelet, prosesi saat membuang hajat, saat selesai prosesi dan saat keluar dari toilet bisa dijadikan bahan pelajaran bersedekah. Ibaratnya begini, saat kita sudah ada rezeki sebaiknya tidak menunda-nunda untuk beramal meski awalnya terasa berat untuk menyisihkan sebagian uang kita. Setelah selesai beramal tidak perlu lah kita mengingat-ingat apa yang telah kita keluarkan untuk kegiatan itu. Segera lupakan kalau kita sudah beramal. Dan tak perlu juga kita menceritakan kegiatan bersedekah kepada semua orang. Yang penting sedekah sudah sampai kepada orang yang membutuhkan, dan semoga menjadi ladang ibadah bernilai pahala.

Tulisan ini dibuat sebagai renungan pribadi bagi saya. Semoga bermanfaat.

Duit palsu seketan ewu
Dinggo tuku yo ora payu
Ayo-ayo bersihkan toiletmu
Kalau sudah ayo kita ngguyu

**end**


Sumber foto: Koleksi Pribadi
Sumber referensi: https://www.kompasiana.com/alwayscahyo/5528a6c96ea834af5d8b45ea/belajar-dari-filosofi-toilet

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day54

0 komentar:

Posting Komentar