Cinta Gombal Ujo


Oleh: Jullie Yuli


[Beb, tunggu aku ya. Lagi OTW nih!] Satu pesan dari Ujo masuk ke gawaiku.

[OTW ke mana, Jo?] Aku balik bertanya. Padahal baru satu jam lalu kami bertemu.

[Ke hatimu hehe 😍😍😍]

Duh, mulai lagi deh jurus gombalannya dikeluarin. Bukannya apa-apa sih, aku suka juga tapi kalau tiap hari digombalin kan enek juga. Enggak lihat tempat dan waktu, kalau Ujo lagi kumat ya pasti langsung menggombal. Dan aku korbannya.

**

Tok tok tok
Tok tok tok tok tok tok tok tok

"Assalamu'alaikum, Ayangbeb Cantika." Padahal aku sedang duduk di teras saat Ujo datang, buat apa coba dia ketok-ketok pagar keras-keras.

"Wa'alaikum salam." Aku menjawab singkat salam Ujo.

"Iih kok gitu sih, Beb. Babang Ujo ganteng datang kok gak disambut senyum cerah gitu," ucapnya dengan bibir yang melengkung ke atas dan alis yang digerak-gerakkan.

"...." Krik krik krik, aku masih males nanggepin Ujo.

"Beb, ibu kamu ada tak?" tanyanya tiba-tiba.

"Ngapain nanya-nanya ibu. Ada perlu apa sih, Jo?" Aku bersungut-sungut kesal.

"Mau ngucapin terima kasih, Beb."

"Buat?" Aku balik bertanya kepada bujang ganteng berambut keriwil di depanku ini.

"Mau ngucapin terima kasih banyak karena sudah melahirkan Ayangbeb Cantika yang cantiknya kebangetan."

Tuh kan, keluar lagi gombal recehnya. Tapi kok rasanya pipiku panas ya. Aduh, jangan-jangan pipiku merona nih. Bisa-bisa tambah besar kepala tuh bocah.

"Receh banget sih kamu, Jo! Aku ke dapur dulu ya." Pokoknya aku enggak mau Ujo melihat aku tersipu, jadi aku mesti kabur sebentar.

"Beb, nanti tehnya enggak usah pakai gula ya!" teriak Ujo, "sambil memandang kamu juga nanti tehnya jadi manis," lanjutnya lagi.

Huffth ... Duh jantungku, bisakah tidak berdegup terlalu kencang?

Sekembalinya dari dapur kulihat Ujo sudah masuk ke ruang tamu. Dia sedang melihat-lihat lukisan koleksi ayah yang dipajang di dinding ruang tamu.

Saat Ujo menyadari kehadiranku, dia langsung beranjak menghampiri dan meraih tanganku.

"Beb, kamu tahu engggak bedanya lukisan sama kamu?" Aku tahu Ujo mau berulah lagi. Tapi lagi-lagi aku menanggapi.

"Memangnya apa bedanya?"

"Kalau lukisan, makin lama makin antik. Tapi kalau kamu, makin lama makin cantik," ucapnya seraya mengecup tanganku.

"Receh receh receh! Iiih, nyebelin banget jadi orang. Enggak pernah serius nih." Aku menghentakkan tanganku hingga terlepas dari genggamannya.

"Lho, kamu mau diseriusin tho, Beb? Ngomong dong, kan Babang Ujo juga siap nih," ucapnya seraya memasang wajah sok gantengnya.

Mendadak raut muka Ujo berubah serius. Dikeluarkannya sebuah kotak beludru berwarna biru dari saku kemejanya dan berdehem. Ehemm ....

"Cantika, maukah kamu menjadi belahan jiwaku, separuh nafasku, pelengkap tulang rusukku, dan ibu bagi anak-anakku kelak?" Aku hampir tersedak mendengar pernyataannya. Antara serius yang overdosis dan jurus gombalnya berkolaborasi jadi satu.

Kembali aku tersipu malu. Karena Ujo tak kunjung membuka kotak beludru biru itu, maka aku berinisiatif mengambil dari tangannya. Aku melanjutkan membuka kotak itu, sebentuk cincin berlian bermata sangat indah ada di depan mataku. Langsung saja kucoba memakaikan cincin itu ke jari manisku.

"Ujooooooo! Cincinnya kebesaran!"

**end**

#TantanganODOP5
#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day37
#Fiksi

0 komentar:

Posting Komentar