Cinta Terakhir


Oleh : Jullie Yuli

Bagaimana aku tak mencinta, kalau hadirmu selalu mendebarkan dada

Bagaimana aku tak merindu, kalau bayangmu selalu merasuk di kalbu

Bagaimana aku tak menyayang, kalau di awal pertemuan aku yang membuat kepalamu peang

Roza tak dapat menahan kedua ujung bibirnya untuk melengkung ke atas. Baru tiga baris puisi yang terbayang dalam pikirannya, tapi ternyata di baris ketiga isinya sedikit nyeleneh. Dia teringat awal pertemuannya dengan Danu Wicaksono, suaminya. Pertemuan konyol yang mengantarkannya pada pemilik tulang rusuknya.

Sore itu Roza sedang menonton pertandingan bola voli antar Ibu-ibu PKK di lapangan kecil di depan kantor kelurahan. Dia datang bersama bersama beberapa orang temannya. Roza yang pada awalnya hanya menonton, akhirnya ikut bertanding voli menggantikan seorang ibu yang harus pulang ke rumah karena anaknya menangis.

Roza sangat percaya diri menggantikan ibu itu, meskipun aslinya dia tidak bisa.

Roza bersiap melakukan servis. Dia memukul bola dengan sangat kencang. Tapi yang terjadi bola voli bukannya melambung ke depan, melainkan ke arah belakang Roza berdiri. Bola jatuh menukik mengenai kepala Danu yang sedang berjalan di jalan kecil di seberang lapangan.

Buggg!!

Sontak Danu limbung. Badannya tak dapat menahan lagi berat badannya. Dia terjatuh.

Roza panik. Segera dia berlari mendekati Danu.

"Aduh, maaf banget, Bang. Ngga sengaja." Ucap Roza sungguh-sungguh sembari melihat keadaan kepala Danu yang memar dan membantu Danu berdiri.

"Kepalaku ngga papa kok. Jangankan kena bola, kena meteor aja Abang gak papa, Neng. Demi kamu." Kata Danu lebay.

"Oya, kenalin aku Danu. Panggil aja Bang Danu." Dengan over percaya diri Danu  mengulurkan tangannya sambil mengedipkan mata.

'Idiiih ... lebay banget ini orang.' Batin Roza.

"Aku Roza." Jawab Roza singkat.

"Oh ... Mawar namanya." Roza memutar bola matanya.

"Bunga mawar merah satu tanda cinta ... yang berarti bahwa kau cinta padaku ...." lanjut Danu dengan mendendangkan sepenggal lagu dangdut.

Pada akhirnya penggila dangdut itu berhasil membuat Roza, si pecinta puisi jatuh hati. Berhasil menjadikan Roza sebagai istrinya. Dengan segala tingkah absurdnya, gombalan recehnya ataupun alunan merdu suara Danu menyanyikan lagu dangdut di saat kebersamaan mereka. Semua Roza suka.

**

"Neng, tahu ngga hidup Abang tanpa kamu itu seperti apa?" Tanya Danu kepada Roza.

"Seperti apa, Bang?" Roza balik bertanya sambil memeluk lengan Danu.

"Seperti mati lampu ya Sayang, seperti mati lampu ... hidupku tanpamu ya Sayang, bagai malam tiada berlalu ...." Danu langsung menyanyikan penggalan lagu dangdut milik seorang penyanyi dangdut pria jebolan salah satu ajang pencarian bakat di televisi.

"Huwa ... receh banget kamu, Bang. Untung ganteng. Jadi aku suka." Jawab Roza riang.

Rasanya masih segar dalam ingatan Roza saat Danu menyanyikan lagu dangdut untuknya. Tapi kenapa sekarang Danu terlihat berbeda. Tak ada senyum di bibirnya. Danu di sana. Duduk di atas kursi roda.

Dan lihat! Ada air mata di ujung matanya. Danu menangis. Tapi kenapa?

Roza ingin menyentuhnya. Sungguh! Tapi kenapa tangannya tak mampu menggapai bahu Danu?

Roza melihat Danu menunduk dari kursi rodanya. Tangannya mengusap sebuah papan yang tertancap di tanah. Ada sebuah nama tertulis di sana.

ROZA NINDIA.

Seandainya Roza bisa mengulang waktu, dia tak mau memaksa pulang bersama Danu ke rumah malam itu menerobos hujan yang turun sangat lebat. Melewati jalanan licin di bibir jurang yang mengakibatkan mobil Danu hilang kendali.

Mungkin saat ini dia masih bersama Danu. Hangat dalam dekapannya ....

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day28

0 komentar:

Posting Komentar