Dia Bukan Bunda

Oleh: Jullie Yuli


Tiada sama rasanya
Ibu kandung yang tercinta
Menyayang sepenuh jiwa
Penuh kasih lagi mesra

Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja
Selagi ayah di sampingku, ku dipuja dan dimanja
Tapi bila ayah pergi, ku dinista dan dicaci
Bagai anak tak berbakti, tiada menghirauku lagi

Hening. Aku terpekur sendiri di sudut ruang dingin ini. Ditemani album kenangan bunda dan ingatan akan perbuatan buruk ibu tiriku.

Dia, dia yang disebut orang sebagai ibu tiriku bahkan tak memujaku saat ayah ada di sini. Aku lebih baik menghindarinya daripada melihat mulut manisnya bercerita. Dusta. Palsu. Penuh kepura-puraan, dan aku benci.

Kulihat wajah bunda tersenyum manis di album. Foto saat aku berulang tahun yang ke-17 tahun. Bukan! Bukan pesta perayaan ulang tahun. Bunda hanya memasakkan mi goreng untukku sebagai tanda bertambahnya umurku. Disertai harapan agar aku panjang umur dan sehat selalu.

"Selamat ulang tahun, Nak. Semoga sisa umurmu diberkahi Allah," doa Bunda untukku.

Aku tak sanggup berkata-kata, hanya tetes air mata yang mengiringi saat aku memeluk tubuh kurusnya.

Ayahku? Dia sibuk sendiri dengan kegiatannya, entah apa saja. Tapi aku bersyukur karena ada ibu yang selalu di sisiku.

Selang beberapa waktu, bunda meninggalkanku untuk selamanya. Allah lebih sayang pada bunda, sehingga tak membiarkan bunda merasakan sakit yang dideritanya terlalu lama.

Aku sedih? Banget.
Aku senang karena ayah segera mendapatkan pengganti istri? Tidak sama sekali.

Dia memang pengganti istri bagi ayah. Tapi bukan pengganti bundaku. Perkataan, tingkah lakunya tak mencerminkan sikap seorang ibu. Meski sebelum dengan ayah dia sudah memiliki anak.

"Melly, jangan merepotkan ayahmu! Dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk pernikahan Tina." Suara istri ayahku tiba-tiba memecah konsentrasiku. Aku sedang menyiapkan undangan yang akan disebar untuk pernikahanku.

"Kenapa? Aku anak ayah, dan Tina anakmu. Kenapa ayah kandungku sendiri tak boleh mengeluarkan uang untukku, anaknya sendiri, tapi untuk Tina boleh. Toh selama ini kalian menelantarkanku dan enggak pernah kasih aku makan." Aku sudah geram sampai ubun-ubun. Rasa sedih, kecewa, dan marahku sudah sampai di ambang batas.

Dan ayahku hanya diam saja. Aku berlari menuju ke kamarku dengan berurai air mata.

**

Masih kupandangi foto cantik bunda. Betapa aku sangat merindukannya saat ini.

"Bunda, Melly kangen ...."

**end**

#KomunitasOneDayOnePost

#ODOP_6
#Day39
#Fiksi

0 komentar:

Posting Komentar