Kaulah Melody


Oleh: Jullie Yuli

"Brukk!"

Mila jatuh terduduk di koridor kampus bersama buku-bukunya saat seseorang sengaja menabraknya. Gadis berkacamata tebal itu berusaha bangun dari posisinya namun gagal, karena orang itu menjauhkan tongkatnya dari jangkauannya.

"Hei, makanya kalau jalan tuh lihat-lihat yang bener! Sudah jalannya pakai tongkat eh malah sambil meleng segala! Dasar, Pincang!" seru orang itu yang ternyata adalah si biang onar di kampus, Elang.

"Maaf ya, bisa enggak pakai bahasa yang baik buat didengerin. Kamu sengaja kan nabrak aku? Mau kamu apa sih?" Mila geram dengan perlakuan Elang kali ini. Dengan susah payah dia berhasil mengumpulkan buku-bukunya dan bangun kembali berdiri dengan berpegangan pada dinding kampus.

"Enggak usah belagu deh jadi orang. Kamu dibayar berapa sama kakekku agar mau ngajarin aku materi dan tugas kuliah? Aku enggak butuh belajar lagi tahu!" Elang mencengkeram lengan Mila dan menatap gadis itu dengan tatapan mengintimidasi.

"Hei, Bung! Aku enggak takut dengan semua ancaman kamu. Pokoknya aku akan mengikuti kamu sampai kamu mau belajar dan memperbaiki nilai mata kuliah kamu." Mila balik menatap mata Elang tanpa ragu.

"Oke, setuju. Aku mau lihat sampai kapan kamu bisa bertahan menghadapiku," seringai Elang.

Elang mengingat-ingat kembali awal pertemuannya dengan Mila. Dari yang awalnya bagai air dan minyak yang tidak bisa bersatu. Rasa bencinya yang terlalu besar kepada Mila, malah membuatnya selalu memikirkan gadis manis berkacamata tebal itu. Tiada hari yang terlewatkan tanpa memikirkan cara untuk menghalangi gadis itu menemuinya atau bahkan sekedar untuk menjahilinya.

Gadis pintar yang memakai tongkat untuk membantunya berjalan itu memang memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Jatuh berkali-kali tak menyurutkan langkahnya mencapai keinginannya. Apalagi itu keinginan untuk berbagi. Baik berbagi ilmu ataupun berbagi kasih, dengan teman-temannya di komunitas difabel yang diikutinya.

Bagai melodi, kehadiran Mila memberikan irama-irama indah dalam kehidupan pemuda berambut gondrong itu. Elang yang seorang bad boy tapi tidak mau berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan wanita pun akhirnya luluh dengan  pesona seorang Cahya Kamila. Elang menikahi Mila tak lama setelah gelar sarjana diperolehnya.

**

"Mila sayang, semangat ya. Demi kita, demi anak kita," ucap Elang lirih seraya mengecup kening Mila dan mengusap perut buncit istrinya sebelum perawat membawanya ke ruang operasi untuk bedah sesar.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day33

0 komentar:

Posting Komentar