Kenangan Kenanga


Oleh: Jullie Yuli

"Anga! Kenanga!" Suara seseorang memanggil tepat sebelum aku sampai di depan pagar rumahku. Rumah kecil bercat ungu lavender, tempat tinggalku bersama putra kecilku, Devano.

"Maaf, Anda siapa? Dan saya bukan Kenanga," ucapku datar. Sungguh aku tak mengenali lelaki di hadapanku ini. Dia memakai topi hingga menutupi wajahnya. Tapi ... senyum itu, aku seperti mengenalnya. Entah di mana.

Seraya membuka topinya dengan tangan kirinya, dia mengulurkan tangannya yang bebas kepadaku.

"Saya Rama Rahardian," ucapnya.

Deg!
Nama yang sama dengan seseorang dari masa laluku. Apakah dia orang yang sama juga?

Kutengadahkan wajahku menatapnya. Mata itu ... mata elang dengan alis tebalnya masih sama seperti dulu. Yang berbeda adalah gurat halus di sudut mata pertanda semakin matangnya usia.

Terjawab sudah alasan kenapa aku mengenalnya. Dia mantan tunanganku, hasil perjodohan orang tuaku dan orang tuanya. Seorang spesial yang pernah mengisi relung hatiku yang paling dalam tapi mengabaikanku demi kekasihnya yang paling cantik, Irene.

Malam itu, Rama menjemputku di rumah dengan alasan mengajakku ke pesta ulang tahun teman kepada ibuku. Tapi di tengah jalan dia mampir menjemput Irena dan mengedropku ke kosannya.

"Kamu di sini saja! Aku enggak mau kamu mengganggu acaraku dengan Irene," ucapnya seraya menggandeng tangan Irene dan menutup pintu kosan.

Aku sendirian. Dalam temaram malam, aku hanya terduduk di sudut kamar kos Rama. Sementara di luar, deras hujan mengiringi kesendirianku menunggu Rama kembali.

Brakk!
Pintu kamar dibuka dengan kasar. Seorang lelaki mirip Rama masuk ke kamar dengan bau alkohol menguar dari mulutnya.

"Si ... siapa kamu?" tanyaku. Aku sangat ketakutan. Tubuh kekar dan rambut gondrongnya seakan mengintimidasiku. Hanya saja mata elang dan alis tebalnya mengingatkanku pada Rama.

Dia tak menjawab pertanyaanku. Pria itu merangsek mendekatiku. Menerjangku dengan sekali gerakan.

"Hentikan! Tolong hentikan!" Aku semakin menjerit histeris.

"Diam! Percuma kamu menjerit karena tidak akan ada yang mendengarmu!" Suara baritonnya semakin membuatku terancam.

Tak ada guna aku berusaha menahan tangannya. Tenaganya tak ada apa-apanya bagi dia. Dia berhasil melucuti semua yang menempel di tubuhku. Dia mengoyak, merusak, dan mengotori semua yang ada padaku.


Aku mengerjapkan mata. Lelaki di hadapanku kembali mengingatkan kenangan kelam yang menimpaku beberapa tahun yang lalu. Dia tak akan mengenaliku sebagai Kenanga, karena wajahku sudah berubah. Nama Kenanga pun sudah aku tinggalkan. Dan aku ... aku bukan lagi Kenanga lemah seperti di masa lalu.

"Hai!" Rama menggerakkan tangannya di depan wajahku menarikku kembali dari alam kenangan.

"Eh, iya ... Maaf, tapi saya bukan Kenanga," ucapku tanpa menjelaskan apapun.

"Bolehkah saya mampir sebentar? Rasanya saya sudah capek sekali dan sepertinya saya salah alamat. Tapi kalau dari informasi yang saya terima, di sini benar alamat calon istri saya yang menghilang empat tahun yang lalu." Rama menunjukkan serangkaian catatan di gawainya yang menuliskan nama dan alamatku.

"Maaf, saya tidak bisa menerima tamu. Saya ...."

"Mamaaa ... kenapa enggak masuk ke rumah? Vano kan nungguin dari tadi." Putraku berlari mendekatiku di dekat pagar rumah dan langsung bergelayut di lenganku.

Tatapan Rama bolak-balik berpindah dariku dan Vano. Dia menatap Vano seolah memperhatikan mata elang dan alis tebal anakku seperti yang dimilikinya.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day41





0 komentar:

Posting Komentar