LELAKI BAYANGAN


Oleh: Jullie Yuli

Aku merasakan sapuan lembut di pipiku. Dingin. Segera kubuka kedua mataku. Tak nampak sesuatu yang mencurigakan di kamarku. Jendela masih tertutup rapat dengan gorden yang bergeming. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain selain aku sendiri. Tapi kenapa usapan tadi terasa begitu nyata?

"Angie ...." Aku mengedarkan pandangan mataku menyapu kamarku.
"Angie Pricilla ...," seru suara itu. Aku kembali memperhatikan sekelilingku.

Di sudut meja riasku, terlihat kursi kayu sedikit bergerak. Sebentuk asap putih muncul seketika, menampakkan sesosok manusia dari balik asap. Sesosok lelaki bertubuh kekar, dengan alis mata tebal dan pandangan mata setajam elang. Siapa dia? Kenapa dia ada di sini?

"Ka ... kamu siapa?" tanyaku gugup, "apa kamu akan menggangguku?"

Dia mengulum senyumnya. Perlahan dia bergerak mendekatiku.

"Aku Edric Lucian. Panggil saja Edric. Aku adalah pendampingmu," kata lelaki itu. Aku sungguh tidak mengerti maksud perkataaanya. Pendamping. Pendamping macam apa yang dimaksudkannya.

"Maksudmu? Aku tak mengerti, bisa tolong jelaskan, Tuan." Aku mengernyitkan keningku masih belum mengerti apa yang terjadi.

"Aku adalah  seseorang ... emmm ... maksudku aku sedang ditugaskan untuk mendampingi dan membantu seorang manusia sebelum aku kembali ke dunia elf. Kau adalah manusia itu dan jangan panggil aku tuan. Edric saja," sahutnya.

"Masih adakah dunia peri di zaman milenial sekarang ini, Edric? Haruskah aku mempercayaimu? Apa aku terlihat seperti seseorang yang membutuhkan pendampingan dan bantuan?" Aku mengajukan pertanyaan bertubi-tubi padanya. Tak peduli dia menganggapku bodoh atau loadingku lambat. Yang jelas aku belum bisa percaya dengan yang ada di hadapanku ini.

"Iya, kamu memang memerlukan bantuanku. Masih ingat Sabrina, teman kuliah yang selalu membully-mu. Dia berusaha menyerangmu kemarin tapi tiba-tiba dia melemparkan sepatunya ke arah teman dekatnya? Dan kejadian-kejadian di luar nalar yang terjadi di sekitarmu akhir-akhir ini, kamu lupa?" Edric menatapku intens. Aku melihat kejujuran di matanya.

"Aha! Itu ulahmu, Edric? Benarkah?" tanyaku lagi, "bisakah aku meminta sesuatu kali ini?" Mataku berbinar membayangkan keinginanku akan dipenuhinya.

"Tentu saja. Kamu lapar bukan?" Edric berbicara sambil menahan senyum. Kurasa, selain dia bertugas sebagai penjagaku, dia juga bisa membaca isi hatiku.

Bergegas aku berlari menuju ruang makan. Meja makan kosong. Edric pun tak kelihatan wujudnya. Aku memberengut, aku merasa sudah dibohongi.

Dengan menghentakkan kaki aku bermaksud kembali ke kamarku saat kulihat Edric muncul tiba-tiba di hadapanku.

"Berbaliklah, Angie."

Wow! Ada banyak makanan terhidang di atas meja.

**

"Bisakah kamu tetap di sini, Edric?" Aku menatapnya memelas. Rasanya setelah kebersamaan sekian lama, aku mulai bergantung padanya. Dia yang selalu ada untukku, mendampingi seperti bayanganku, tiba-tiba saja akan pergi.

"Tugasku selesai, Angie. Aku tinggal menunggu dewan elf membawaku ke dunia peri. Kehidupanmu sudah membaik bukan? Kurasa kamu tak butuh lagi bantuanku," jawabnya seraya tersenyum dan membalikkan badan memunggungiku.

"Tap ... tapi, Ed, aku tak mau kehilanganmu. Aku mau kamu, Edric." Aku bergerak mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Kubenamkan wajah menangisku di punggungnya.

"Angie, dunia kita berbeda. Aku dan kamu tak bisa bersama selamanya," ucap Edric seraya menghela napas.
Edric meraih tanganku yang memeluknya, dan mengecupnya lembut.

Lelaki bertubuh kekar itu berbalik tanpa melepaskan tanganku. Dia mundur beberapa langkah dari tempatnya berpijak sambil terus menatapku.

"Aku harus pergi, Angie."

'Pufffh ... asap putih muncul seketika di hadapanku. Perlahan wujud Edric menghilang dari pandangan mataku seiring menghilangnya asap putih itu.

Semilir angin malam yang menembus ventilasi rumah mengalirkan hawa super dingin ke pori-pori kulitku. Aku menggigil. Aku merasa tak lagi memiliki pegangan. Akankah kumampu melewati hari-hari tanpa Edric di sisiku?

**end**

#TantanganODOP-4
#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day35



0 komentar:

Posting Komentar