Lucky Lukman


Oleh: Jullie Yuli

Kudengar suara pintu terbuka perlahan. Laras masuk ke ruang kerja Lukman dengan muka sembab. Sepertinya dia habis menangis. Tapi entah karena apa.

Gadis manis yang biasanya periang itu terlihat sedang membereskan buku-buku Lukman yang berantakan di meja kerja. Satu per satu ditatanya di rak buku yang terletak di seberang meja dengan gontai.

Tunggu! Aku seperti mendengar suara isak tangis tertahan. Sebenarnya ada apa ini?

"Lucky, pak Lukman kenapa sih? Suka banget baperin aku," ucap Laras sambil menggenggam jemariku.

"Kemarin aja mesra. Nolongin aku pas jatuh di parkiran waktu hujan. Bantuin jalan sambil merangkul aku, pinjemin aku baju ganti meski kegedean, terus nyiapin teh manis hangat. Kan so sweet banget, Lucky. Lah hari ini apa? Gara-gara aku terlambat 15 menit saja, aku enggak boleh ikut kelasnya. Malah suruh tutup pintu dari luar. Aduh, capek hayati, Lucky."

Ternyata itu alasannya. Tapi kok menurutku lebay ya? Hanya karena masalah sepele bisa nangis sampai seperti itu. Oh, aku tau, mungkin dia sedang PMS.

Tapi kasihan juga ya? Andaikan bisa, aku ingin sekali membelai rambut bergelombangnya itu dan bilang, "It's okay wae, Laras. Tunggu saja kejutan manis dari Lukman."

Akhirnya Laras duduk bersandar di tembok bersebelahan dengan tempatku berdiri sambil menelungkupkan wajahnya ke lututnya. Tapi sebelah tangannya masih menggenggam jari telunjukku.

Di depan pintu, Lukman memperhatikan Laras yang masih duduk berada di posisinya tadi. Lelaki berumur 32 tahun itu mendekati Laras hati-hati.

"Ras ...," ucap Lukman sambil mengusap bahu Laras.

Laras bergeming.

"Laras, aku tahu kamu denger. Kamu harus bisa bedain dong. Mana saatnya aku jadi dosen, dan mana saatnya aku jadi pasangan. Jangan langsung baper kaya gini." Lukman membelai rambut Laras mesra.

Laras mengangkat wajah sendunya tanpa berkata-kata.

"Betah banget sama si Lucky. Padahal Lucky cuma tulang lho, enggak enak buat dipeluk," goda Lukman sambil mencolek dagu Laras.

Seketika Laras masuk ke dalam rengkuhan Lukman dan membenamkan wajahnya di dada pak dosen ganteng.

Seandainya aku manusia, aku pasti sudah baper lihat pemandangan seperti ini.

**end**

#TantanganODOP6
#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day49
#Fiksi



0 komentar:

Posting Komentar