Mengejar Mimpi


Oleh: Jullie Yuli

"Bang, aku hamil lagi," kataku lirih, "nanti bagaimana kita menghidupi anak-anak kita, Bang?" lanjutku lagi.

"Dinda, anak itu rezeki. Kalau toh kamu hamil lagi ya enggak papa tho, Nda. Aku masih sanggup kasih makan kamu dan anak-anak." Bang Hari berkata bijak seraya mengusap rambutku.

"Tapi, Bang ... Abang kan baru kena PHK, sementara Kak Syila mau masuk SD dan si kembar juga kebutuhannya banyak. Susu formula dan pospaknya belum bisa lepas." Air mata lolos dari pelupuk mataku. Bayangan kesulitan-kesulitan yang akan kuhadapi bersama mas Hari seperti menari-nari di pikiranku.

"Tenang, Nda. Rezeki Allah yang atur. Enggak dapat gaji lagi dari pabrik pun Insyaallah kita masih bisa makan. Abang bisa ngojek, buka tambal ban atau usaha lainnya. Kamu juga bisa buka les belajar lagi buat anak-anak di sekitar sini." Bang Hari menggenggam tanganku erat.

Iya, mungkin aku terlalu terbawa perasaan. Atau mungkin ini bawaan dari bayi yang sedang kukandung. Sedih saja rasanya memikirkan kehidupan kami. Aku dan Bang Hari di rumah kontrakan kecil kami di pinggiran kota dengan tiga anak yang masih kecil-kecil pula dan kondisi Bang Hari yang baru di-PHK.

Tapi yang harus kuyakini bahwa selama aku dan Bang Hari tetap bergandengan tangan, kami bisa mengejar semua mimpi-mimpi indah kami bersama meski tetes air mata kadang menghampiri di antara derai tawa.

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day29

1 komentar: