Rindu Merindu


Oleh: Jullie Yuli

Sedih
Raga merintih
Sukma bagai merepih
Terluka menganga berbalut perih

Tatap muka hanya angan
Hanya dalam bayangan
Menangis sajalah
Berdoa

Rindu
Merasuk kalbu
Menguar dalam syahdu
Simfoni elegi bagai membisu

*
Pernahkah kau merasakan rindu yang tak berujung? Rindu yang tak bisa terobati dengan pertemuan? Aku. Aku merasakan itu. Apalagi di saat penting menjelang pernikahanku ini. Aku Rindu Deanita. Rindu yang sedang merindu bunda tercintaku.

*
Menatap nanar lukisan bunda di dinding kamarku. Rambut panjangnya terurai. Wajah cantik tanpa senyum itu seperti memandangku. Iya. Aku bahkan masih ingat sekali kalau bunda memang jarang sekali melengkungkan bibirnya ke atas. Tapi aku bisa merasakan kasih sayangnya, perhatiannya padaku itu tulus. Masih terasa sampai sekarang, meski dalam kenyataannya semua itu terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Sering kali aku merasa iri pada teman-temanku yang masih memiliki orang tua utuh, terutama ibu. Aku ingin seperti mereka. Sungguh.

Suatu ketika aku pernah mendampingi sahabat dekatku, Indira, menikah. Jelas di hadapanku bagaimana ibunya memeluknya, membelai rambutnya dengan sayang. Aku bisa mendengar dengan jelas nasihat ibunya untuk Indira.

“Nak, mulai sekarang kamu milik suamimu. Dengan kepemilikannya terhadapmu, dia menjadi raja dan penguasa atas dirimu. Patuhlah padanya, tunduklah padanya dengan ikhlas, maka dia akanmenjadi orang yang tunduk padamu. Ibu hanya bisa berdoa untuk kebahagianmu dan keluarga kecilmu.”

Betapa aku juga ingin merasakan yang seperti itu.

Tak terasa air mata meleleh di sudut mataku. Bisa kurasakan tangan tante Hana mengenggam tanganku erat.

“Ndu, prosesi ijab kabulnya udah mau selesai. Jangan nangis terus dong. Masa udah mau jadi Nyonya Andi Wibowo masih cengeng aja. Sini, tante rapikan riasanmu sebentar.” Aku mengangguk.

*
Aku masih belum bisa fokus dengan prosesi ijab kabul yang sedang terjadi di luar karena aku kepikiran bunda terus.
Aku mendengar suara mas Andi. “ Saya terima nikah dan kawinnya Rindu Deanita binti Ahmad Januardi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

 “Bagaimana saksi?” tanya Pak Penghulu.

“SAH!”

Saat tante Hana membimbingku berdiri menuju ruang depan, aku seperti merasakan kehadiran bunda di sampingku. Bunda tersenyum dan mengangguk seolah mempersilahkanku keluar kamar. Aku merasa tangan bunda menepuk kepalaku perlahan kemudian menciumnya.

Entah kenapa tubuhku menjadi lunglai. Aku limbung.

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day52

0 komentar:

Posting Komentar