You Are The Reason


Oleh: Jullie Yuli

Semburat jingga masih terlihat di langit sebelah barat. Semilir angin bak mengalunkan syair kerinduan, membersamaiku di sudut kafe ini. Sendiri. Mencoba terus menghapus semua kenangan pahit di masa lalu, tapi malah semakin ku terjebak dalam kenangan itu.
Kenangan akan sesosok Syauqi Maulana, atau yang biasa ku panggil Kak Uki.

Kukerjapkan mataku saat aku seperti melihat Kak Uki memasuki kafe. Sosok yang aku hindari itu kenapa muncul di sini? Ya, lelaki berbadan tegap itu memang sedang berjalan tergesa-gesa menuju ke ... ah,  dia menuju ke arah tempat dudukku. Saat aku mencoba beranjak melarikan diri, dia langsung meraih tanganku.

"Sabiya, duduk!" perintahnya padaku. "Mau lari ke mana lagi kamu?" Kak Uki memposisikan diri duduk di sebelahku dengan tangan yang masih menggenggam tanganku.

"Ini apa, Ya? Kamu bisa jelaskan maksud ini semua?" Kak Uki langsung memberikan sepucuk surat kepadaku.

"Kak Uki tahu dari mana aku di sini? Dan ini ... apa?" cicitku.

Kak Uki hanya mengedikkan bahu.

Perlahan aku membuka surat itu. Aku mengenali tulisan di sana. Tulisanku untuk Kak Uki bertahun-tahun lalu, yang ku tulis di buku harianku. Ah iya, kertas itu bagian dari buku pribadiku, bagaimana bisa ada di tangan Kak Uki?

Perlahan ku baca lagi tulisanku di sana,

Dear Kak Syauqi Maulana,
Dalam diam menahan air mata. Endapkan sesak yang menghimpit  dada. Rasakan gemuruh di jiwa yang lara. Terluka.

Dalam diam mencoba bertahan. Meski banyak mata berbicara. Dan dinding tak lagi diam saja. Terus ... menebar berita dusta.

Dalam diam yang merana. Memendam cinta berbalas lara. Berbalut perih, berselimutkan kecewa. Tiada penawarnya ....

Dariku,
Kirana Sabiya Ardani

*

Aku terus menunduk setelah selesai membaca. Rasanya aku sudah tak mampu lagi memandang wajah Kak Uki. Aku terciduk. Perasaan terpendamku kepada manusia tampan itu akhirnya terkuak. Tapi rasa sakit hatiku pun menyembul seketika.
Bagaimana tidak? Saat itu aku sedang berada di perpustakaan kampus, saat ku dengar percakapan dua orang mahasiswa di balik rak buku. Dan aku mengenal salah satu satunya sebagai suara Kak Uki.

"Lo, lagi pedekate sama si Sabiya ya, Ki? Gue lihat lo sering berduaan sama itu cewek di mana-mana, kadang di kantin, kadang di sini juga," terdengar suara lawan bicara Kak Uki di telingaku.

"Gue sama Sabiya? Ya ngga level lah, Boy. Gue cuma kasihan aja dia selalu dibully teman seangkatannya, si Merita itu lho yang cantiknya kebangetan," jawaban Kak Uki sungguh membuatku terpukul.

 "Cewek kurus, gak terlalu tinggi, dada rata, muka pas-pasan apa menariknya coba? Gak bakalan deh gue jadiin dia pacar," sambung Kak Uki.

Cukup sampai di situ aku mendengar percakapan mereka dan aku sudah tak sanggup lagi mendengarkan kelanjutannya. Aku segera berlari menjauh. Dan hari-hari berikutnya pun begitu. Aku tak mau bertemu lagi dengan Kak Uki. Akan selalu ku cari cara menjauh darinya.

**

"Sabiya, aku mohon. Maafkan semua kesalahanku. Aku tak bermaksud menyakitimu. Delia, sahabatmu sudah menceritakan semuanya padaku. Aku mengatakan hal-hal yang buruk tentangmu karena aku tak mau Boy mendekatimu. Aku ... sudah terlanjur jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu."

Aku mencari kesungguhan di mata Kak Uki, dan aku melihatnya, tapi tak mampu berkata-kata.

"Sabiya, kamu mau kan jadi bagian dari masa depanku? Jadi pasangan halalku sampai maut memisahkan, bahkan sesurga kita bersama," Kak Uki mengeluarkan sebuah cincin emas bertahtakan permata biru dari saku kemejanya. Dan aku ... rasanya aku tak sanggup lagi menolaknya.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP_6
#Day48
#Fiksi

0 komentar:

Posting Komentar