Ada Cinta di Kereta



Oleh: Jullie Yuli


Kau adalah inspirasi puisi
Untai selaksa rasa
Aromakan cinta
Dayita

Bagai candu bagi penggunanya
Merasuk palung jiwa
Membius sukma
Terlena

Binar mata pancarkan bahagia
Degup jantung menggelora
Kasih mesra
Renjana

Serupa pujangga tuliskan serenada
Goreskan tinta asmara
Embuskan rindu
Menggebu
 **
Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengan Dewangga. Hari itu, bulan Juli lima tahun yang lalu. Aku melarikan diri sejenak dari ibu kota setelah melihat adegan ranjang antara Dimas, mantan kekasihku, dengan sahabat dekatku. Amara.
Masih dengan iringan derai air mata, aku duduk di peron stasiun sendirian. Tak peduli hiruk pikuk lautan manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing, yang jelas aku merasa sendiri. Aku seperti kesepian di keramaian, no body care me.
Tak menunggu lama, kereta tujuan Purwokerto tiba. Aku segera menuju gerbong tujuanku dan langsung duduk di dekat jendela. Menatap nanar kesibukan di sekitar kereta dari balik jendela, air mataku luruh kembali.

“Boleh saya duduk di sini?” tanya seorang lelaki berkacamata tebal kepadaku.
“Silakan.” Aku menjawab singkat dan kembali menatap ke luar.
“Kamu nangis?” tanyanya.
Aku kembali menoleh kepadanya, “Apa pedulimu? Aku bahkan enggak kenal siapa kamu?”
Sungguh, aku sedang tak mau diganggu oleh siapapun. Tapi orang asing ini kenapa sok peduli padaku.
“Oh ya, maaf. Kenalkan, Saya Dewangga. Kamu?” Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum.
“Lovita, panggil Lovi saja.”
Love, tanganmu,” ujar Dewangga sambil melirik tanganku yang belum bergerak menyambut tangannya.
“Apaan sih Love Love, baru kenal juga,” sungutku, tapi tak ayal tanganku membalas tanda perkenalannya.
Love, coba deh cerita. Ada yang bilang cerita dengan orang asing bisa membawa pengaruh baik lho.”
“Ngarang kamu!”
“Beneran, Love. Saya serius.” Aku mengalihkan pandangan mataku padanya dan kulihat ada kesungguhan di sana.
“Tapi aku enggak mood cerita,” dalihku seraya menghindari tatapan matanya.
“Cerita saja! Saya tahu kamu sedang sedih, marah, dan nyesek di dada. Keluarkan saja unek-uneknya. Meski nanti saya enggak bisa kasih solusi, setidaknya kamu sedikit lega.”
“Sok tahu kamu! Kaya dukun,” sahutku, “tapi emangnya kelihatan banget ya?”
“Huum.”
“Oke, saya cerita sedikit. Aku … maksudku aku baru dikhianati oleh kekasihku dan sahabat karibku. Aku harus bagaimana?” tanyaku serius.

(bersambung)

#ODOP_6
#TantanganODOP1
#Fiksi


2 komentar: