In Trance


Oleh: Jullie Yuli

Alunan musik gamelan terdengar indah. Kolaborasi cantik alat-alat musik tradisional dengan suara merdu sinden berpadu mengiringi tarian para penari di tengah lapangan.

Aku bergerak sesuai irama musik gamelan. Dengan gerakan mengalun dan menghentak, aku semakin hanyut dalam alunan tembang Banyumasan.

"Ana maning polaeh wong Purbalingga, senajan tua nanging ora kurang reka .... " Suara sinden semakin terdengar bersemangat bersamaan dengan suara tetabuhan yang  makin rancak.

Aku terbawa bergerak kencang sampai rasanya akan terbang. Pengendaliku lepas kendali. Dia seperti setengah sadar saat tubuhnya bergerak semakin liar menuju tempat sesajen di depan tenda para penabuh gamelan. Menyurukkan mukanya ke sesajen yang tersedia di meja sambil terus mencengkeramku. Sakit? Tidak, aku tak merasakan sakit apapun, tapi yang kutakutkan adalah pengendaliku. Dengan rakus dia memakan bunga mawar dan batang pohon berduri.

"Lihat! Tukang ebeg yang itu makan batang pohon salak," teriak salah satu penonton.

"Iya, lihat di sebelah sana! Dua orang itu bertingkah seperti monyet, yang satu mengupas kelapa dengan giginya. Hiii ... serem!" Suara penonton lain menimpali.

Aku melihat banyak sekali yang mengalami in trance (mendem) di sekelilingku. Bukan hanya para penari, tapi juga dari penonton. Ada yang bertingkah menyerupai monyet, macan, dan bertindak tak masuk akal. Makan bunga mawar, duri salak, menghantamkan batu ke dada, dan ada pula yang berjalan di atas beling. Sebagian besar penonton berteriak ngeri, namun banyak juga yang menikmati atraksi.

Aku masih saja bergerak seiring gerakan pengendaliku, saat tetua paguyuban kuda lumping mendekati kami. Dia memegang kepala pengendaliku seraya membisikkan mantra di telinganya. Tubuh pengendaliku melemas, aku terbebas dari cengkeraman tangannya dan meluncur bebas ke tanah. Segera, seseorang mengambil dan meletakkanku bersama jaranan yang lain. Sementara pengendaliku dipapah menuju ke luar arena atraksi.

**end**

Sumber gambar: https://goo.gl/images/j1mkf5, diedit dengan Canva

#Fiksi
#Cermin

18 komentar:

  1. Aku jadi ingat masa kecilku,suka sih melihatnya, tapi ada rasa takut juga.

    BalasHapus
  2. Tontonan masa kecil. Antara ingin lihat dan menahan rasa takut. 😅

    BalasHapus
  3. Aku meninggalkan jejak di blog ini...

    BalasHapus
  4. Pengen nonton tapi gak pernah berani

    BalasHapus
  5. tontanan waktu anak-anak, dulu suka keliling kampung, sekarang malah sudah langka

    BalasHapus
  6. Gak pernah nonton secara langsung, pernah lihat sekilas saja di televisi. Itu beneran kesurupan ya? Bukan drama? *kok serem* 😅

    BalasHapus
  7. Suka tulisannya. POV yang beda. Dulu pas kecil suka banget nonton kuda lumping tapi ya itu.mulai pecut2 langsung buyar, terus balik lagi, terus lari, terus balik..ga jelas hahaha

    BalasHapus
  8. dulu waktu kecil pernah nonton, ngeri pas adegan makan beling

    BalasHapus
  9. Kayak jathilan gitu kan ya kak? Aku malah takut sampe skrang. Padahal di tempatku terkenal kesenian jathilannya.

    BalasHapus
  10. Jaranan jaranan jarane jaran teji,

    BalasHapus
  11. Kirain cuma lagu, jaranan itu. Heheheh

    BalasHapus
  12. Orang yg kayak monyet skr banyak ya...

    BalasHapus
  13. Takut tapi penasaran kalo nonton acara beginian 😅

    BalasHapus
  14. Blm pernah lihat atraksinya scr langsung.

    BalasHapus
  15. Blm pernah lihat atraksinya scr langsung.

    BalasHapus
  16. Jadi ingat masa kecil yang telah lalu

    BalasHapus