Jambu Alas


Oleh: Jullie Yuli

Bagi Abimana Bayu, seorang bujang tampan yang terlanjur tua, mencintai seorang wanita adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Bagaimana dirinya sudah terlanjur terpikat pada Amanda Jasmine semenjak kecil. Mereka adalah teman bermain, tapi diam-diam Abim menyukai Amanda tanpa berani menyatakan perasaannya kepada Amanda. Bahkan Abim bertekad mendapatkan Amanda apa pun keadaannya, baik sebagai gadis ataupun janda.

**

Dan di sinilah Abim. Di kamar pengantin bersama Amanda, wanita yang baru dinikahinya tadi siang. Tak henti Abim mengucapkan syukur karena di hari ulang tahunnya yang ke-36 tahun, dia mendapat kado terindah seorang bidadari surga yang telah lama dirindukannya, calon ibu bagi anak-anaknya kelak.

Waktu itu Abim memberanikan diri menemui Amanda setelah masa iddah Amanda karena suaminya meninggal, telah berakhir. Suami Amanda meninggal karena kecelakaan di usia pernikahan mereka yang baru menginjak enam bulan.

"Nda ... nikah, yuk!" Tanpa tedeng aling-aling Abim langsung menyatakan tujuan kedatangannya.

Amanda bergeming. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Dia tahu kalau Abim menyukainya sejak kecil, sebagaimana dia pun begitu. Walau akhirnya menyetujui perjodohannya dengan Jati Anggoro, almarhum suaminya.

Tapi melihat kesungguhan di mata Abim, Amanda pun menerima lamaran dari teman semasa kecilnya itu.

Dan esok harinya lamaran resmi dari keluarga Abim dilaksanakan sekaligus menentukan hari pernikahan Abim dan Amanda, yaitu hari ini.

Malam yang paling mendebarkan bagi Abim adalah malam ini. Malam pertama di mana dia berstatus sebagai seorang suami. Tak puas rasanya terus memandang wajah cantik Amanda dari dekat. Alisnya yang indah alami, hidung bangirnya, lesung pipit di sebelah kanan pipinya dan juga bibirnya yang mungil.
Duh ... benar-benar godaan bagi Abim.

'Ya Robb, mudahkan dan lancarkanlah segala urusanku,' batin Abim.

"Bim, kenapa lihatin aku terus sampai seperti itu?" tanya Amanda lirih, tapi Abim bisa mendengar jelas ucapannya.

Jantung Abim berdebar hebat. Keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Ternyata oh ternyata begini rasanya menyambut momen bahagia. Abim pun tertunduk malu.

"Bim ...." Amanda mendekati Abim dan mengusap punggung tangannya.

Abim merasa seperti tersengat listrik. Jantungnya berdebar makin kencang.

"Iya, Nda."

"Cuma kita berdua aja di kamar ini lho, Bim. Kamu gak pengen ngapa-ngapain aku gitu? Masak dari tadi cuma lihatin aja?" kata Amanda manja.

Abim tergeragap.

"Eh, iya ...." Abim mencoba meredamkan debaran di dalam dadanya. "Kita awali ibadah indah malam ini dengan salat sunnah dua rakaat ya, Nda. Kamu ambil wudhu dulu gih!" perintah Abim.

"Oke, Bim." Amanda pun langsung berlalu menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidurnya itu.

Beberapa menit kemudian Amanda keluar dari kamar mandi dengan muka tertunduk dan langsung mendekati Abim.

"Bim, tadi aku pipis. Ternyata ... tamu bulananku datang ...."

**end**

#TantanganODOP-Songlit
#Fiksi

6 komentar: