Ngidamnya Istriku


Oleh: Jullie Yuli

Punya istri yang sedang hamil muda itu rasanya nano-nano. Apalagi kalau ngidamnya macam-macam, beneran mesti ekstra sabar dan tahan banting. Bayangkan saja, jam di dinding kamar menunjukkan pukul 01.15 saat Kania membangunkanku.

"Abang, bangun," ucapnya seraya mengusap pelan pipiku.

"Hmm ... ngantuk banget, Yang." Aku kembali menarik selimutku menutup kepala.

"Abaaaaang ...," rajuknya lagi.

"Besok lagi ya, Yang. Abang beneran pengen tidur nyenyak, besok pagi ada meeting jadi Abang harus fresh," sahutku.

Agak lama senyap, aku seperti mendengar suara isak tangis. Kusibak selimutku dan kulihat istriku berbaring memunggungiku. Hmmm ... bener-bener! Punya istri hamil kudu jadi suami siaga. Karena baper dan sensitif istri naik sampai tingkat dewa.

"Kania sayang," panggilku seraya memeluknya dari belakang, "kamu pengen apa?" tanyaku lagi.

"Mulutku asem, Bang. Mau makan yang  seger-seger," ucapnya sambil membalikkan badan menghadapku.

"Di kulkas masih ada mangga kan, Yang? Abang kupasin ya?" tawarku padanya.

"Enggak mau mangga, Bang. Aku pengen buah srikaya di depan rumah pakde Bowo."

"Aduh, Yang. Rumah pakde Bowo kan jauh, ini tengah malam lho, Yang. Nanti kalau ada mba Kunti culik Abang di tengah jalan gimana?" ucapku seraya mencoba mencairkan suasana.

"Abang lebay deh! Mana ada mba Kunti yang mau culik Abang yang gondrong kaya gini, palingan Abang yang menawarkan diri buat diculik. Abang mau enggak sih minta buah srikaya di tempat pakde? Abang mau dedek utun nantinya ileran?" jawabnya sambil bersungut-sungut kesal.

"Iya deh, Abang nurut. Abang ke tempat pakde sekarang. Tapi cium dulu dong, Yang." Aku menunjuk dahi, pipi, dan bibirku.

"Ogah," jawabnya cepat.

"Jangan pelit, memang itu semua punya siapa?" Aku berpura-pura kesal.

"Abang, iih ...," ucap Kania seraya mengecup pipiku cepat, "udah sana buruan ke tempat pakde Bowo."

Dalam hati aku tersenyum sendiri, 'untung mintanya srikaya bukan pepaya, Kania enggak tahu aja kalau kemarin aku ketemu pakde Bowo di jalan dan memberikan satu kantong plastik berisi buah srikaya.'

Aku bergegas menuju tempat penyimpanan beras tempatku memeram srikaya. Baru saja aku akan mengambil piring di rak saat kudengar teriakan Kania.

"Abaaaaang, aku udah enggak pengen srikaya. Aku mau gado-gado yang di jual di depan balai desa!"

"...."

**end**

#TantanganODOP-DomestikDrama
#Fiksi






9 komentar: