Penyesalan Taki


Oleh: Jullie Yuli

Di sebelah utara hutan Korakora ada satu danau yang indah. Taki, si Katak hijau tinggal di sana. Dia sangat menyukai hujan.

Seperti hari ini, langit terlihat begitu gelap. Awan hitam menghiasi langit hutan Korakora. Sekejap saja, tetes-tetes air hujan turun ke bumi. Taki langsung keluar dari rumahnya. Dia melompat-lompat dan bernyanyi riang.

Taki melihat Muti si semut sedang berusaha menghindari tetesan air hujan.

"Wahai Muti, kemarilah! Jangan bersembunyi di balik daun!" seru Taki.
Muti menghela nafas dan memandang Taki dalam-dalam.
"Aku tidak suka hujan, Taki. Lihatlah tubuhku yang mungil, air hujan bisa menyeret dan menenggelamkanku ke danau. Lagipula aku tidak bisa berenang, makanya aku berteduh."

"Berlatih dong, Mut. Aku saja sejak dari berudu sudah bisa berenang dan aku sekarang mahir melakukannya," ucap Taki membanggakan diri dan Muti hanya menatapnya kesal.

"Hujan telah tiba! Hujan telah tiba! Horeeee!" seru Taki.

"Hai, Ike. Aku suka sekali dengan hujan, bagaimana denganmu?" tanya Taki kepada Ike, si ikan kecil, di pinggir danau.

"Aku tinggal di dalam air, Taki, bagaimana aku bisa merasakan tetesan air hujan seperti kamu," jawab Ike sambi mendongakkan kepalanya ke atas kolam, tempat Taki berada.

"Kasihan sekali hidupmu, Ike. Coba kalau kami jadi aku. Bisa hidup di darat dan air. Jadi saat hujan seperti ini, aku bisa naik ke daratan dan merasakan air hujan menetes di kulitku," ucap Taki dengan nada mengejek.

Ike sedih sekali mendengar perkataan Taki dan segera berenang menjauh dari katak hijau itu.

"Hai, Taki! Kenapa kamu seperti itu? Perkataanmu melukai hati teman-teman." Suara Nuri si burung mengagetkan Taki.

"Aku tidak mengejek mereka, Nuri. Aku hanya berbicara nyata," kata Taki membela diri.
"Sekarang gantian aku yang bertanya. Apa kamu bisa terbang?" tanya Nuri.

"Yang benar saja kamu, Nuri. Aku kan tidak punya sayap, mana mungkin bisa terbang," jawab Taki.

"Nah, itu dia. Taki, apa kamu tidak tahu kalau semua makhluk diciptakan Tuhan dengan keistimewaannya masing-masing? Kamu bisa hidup di dua alam, sementara Muti yang berbadan mungil bisa menyusup di tempat-tempat sempit yang tidak bisa kamu lewati. Ike bisa bernafas di dalam air dan aku bisa terbang mengitari angkasa. Tidak seharusnya kamu menghina seenaknya." Nuri menjelaskan dengan bijak.

Taki menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Dia meminta maaf kepada Muti dan Ike yang telah dihinanya. Serta berterima kasih kepada Nuri yang telah menyadarkannya.

**end**

#ODOP_6
#Fiksi
#Cernak




9 komentar: