Peri Gendut Diomira


Oleh: Jullie Yuli

Siapa bilang kalau peri itu pasti cantik, tinggi dan langsing? Kalau ada yang bilang begitu pasti bohong. Bukti nyatanya adalah aku.

"Hei, halo, look at me! Aku Diomira, peri kecil dengan badan jumbo, pipi chubby dan ... menggemaskan."

Iya, aku menggemaskan. Para peri enggak akan segan untuk mencubit pipiku kalau bertemu denganku meski aku putri Ratu Peri Fellysta. Aku memang dibebaskan bergaul dengan semua peri di Pretty Land. Belajar bersama peri-peri kecil di sekolah peri dan bermain bersama di taman bunga. Tak ada beda dengan peri yang lain, tapi aku suka.

"Diomira, aku perlu bantuanmu. Bisa ikut aku sebentar?" Peri Nerissa menghentikan langkahku saat aku baru keluar dari sekolah peri.

"Bantuan apa?" tanyaku sambil mengerutkan dahi. Setauku, aku belum mempunyai kemampuan khusus apapun. Terbang belum bisa tinggi, menghilang belum bisa, apalagi tekhnik sihir peri. Aku sama sekali belum menguasainya.

"Ayolah! Sahabatku, peri Vixia membutuhkanmu, Diomira. Dia adalah peri bunga dari utara Pretty Land, tapi kemarin dia kehilangan kemampuan sihirnya karena memasuki hutan para raksasa. Untung saja dia masih bisa kembali meski dalam keadaan yang menyedihkan." Peri Nerissa menjelaskan panjang lebar sembari menggandengku terbang.

"Tapi aku bisa apa, Nerissa? Seharusnya kamu memanggil peri tabib atau nenek peri Bouna, mereka lebih berpengalaman menangani masalah seperti itu." Aku cemas, aku tak habis pikir bagaimana peri Nerissa bisa begitu saja memanggilku.

"Menurut peri tabib, penawar untuk peri Vixia ada di mahkota bunga yang ada di kepalamu. Ayolah, Diomira! Sebelum terlambat!" seru peri Nerissa.

"Lihat di sana! Peri Vixia itu yang terbaring lemah di rumah jamur." Peri Nerissa menunjuk arah tempat peri Vixia berada.

Aku bergegas mendekati rumah jamur. Di dekat peri Vixia ada peri tabib yang sedang meramu sesuatu.

"Diomira, mendekatlah!" perintah peri tabib padaku.
Aku mengikuti perintah peri tabib dan berdiri di hadapannya.

"Lepaskan mahkota bungamu, dan pilih dengan mata batinmu kelopak bunga mana yang bisa menyembuhkan peri Vixia," ucap peri tabib dengan tegas.

Aku memegang mahkota bungaku dengan kedua tanganku, kupejamkan mata dan berkonsentrasi pada kesembuhan peri Vixia. Kurasakan ada getaran yang menggerakkan tangan kananku untuk mengambil satu kelopak bunga dengan warna sedikit lebih gelap daripada yang lain.

"Ini, tabib," ucapku seraya menyerahkan kelopak bunga itu kepada peri tabib.

Peri tabib segera memasukkan kelopak bunga ke dalam ramuan obat yang sedang dia racik. Tak lama setelah itu, keluar asap mengepul berwarna kebiruan dari dalam kuali.

Peri tabib mengambil sedikit ramuan dan memasukkan ke dalam cawan. Dia menyuapkan ramuan itu pada peri Vixia.

Harap-harap cemas aku memperhatikan tubuh peri Vixia yang masih tergolek tak berdaya.

Satu, dua, tiga ... aku memulai berhitung di dalam hati sambil menunggu keajaiban. Di hitungan ketujuh, aku melihat pergerakan tangan peri Vixia, dan tak lama kemudian dia mulai membuka matanya.

"Aku ... di mana aku?" cicit peri Vixia yang disambut senyuman lega dari peri tabib, peri Nerissa dan tentu saja aku.

"Kamu di tempat yang aman, Vixia," ucap Nerissa seraya menggenggam tangan sahabatnya itu.

Aku merasa lega melihat pemandangan di depanku. Kemampuan spesialku juga rasanya mulai muncul. Iyeaay, aku harus segera memberi laporan kepada ratu peri.

**end**

#KomunitasODOP-FantasiFiction
#ODOP_6
#Fiksi


10 komentar: