REVIEW NOVEL CANTING


Oleh: Yuliani

Judul Novel : Canting (Gusti Paring Pitedah, Bisa Liwat Susah Bisa Liwat Bungah)
Karya : Fissilmi Hamida
Terbitan : KMO Indonesia
Genre : Javanese romance
Latar : Yogyakarta dan Inggris

Sinopsis:
Dalam novel ini tokoh utama diperankan oleh Sekar Kinasih dan Hadi Suwito, tokoh antagonis diperankan oleh dr. Ajeng (Rahajeng Sukmawati) dan bapaknya Sekar serta peran pendukung dimainkan oleh Simbok, kanjeng ibu Sundari, Haryo, Ratri, Airlangga, Eldo, Ferdi dan mahasiswa Queen Mary.

Kisah dimulai dengan perjodohan  antara Hadi dan Sekar. Sekar yang semula menolak perjodohan ini karena dia tak mau seperti temannya yang cuma berakhir di dapur, sumur dan kasur. Namun simbok menasehati dengan filsafat Jawa tentang perempuan. Dalam budaya Jawa, perempuan memiliki tiga sebutan yaitu wadon, wanito dan estri. Bahwa sejatinya kodrat perempuan menjadi pelayan suaminya namun sesuai hak dan perannya sebagi istri serta ibu yang mendidik anak-anaknya agar saleh, pintar dan rajin. Sehebat-hebatnya suami, ada peran dan dorongan dari istri di belakangnya. Simbok juga berujar, “Dedalane guna kawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah dhuwur wekasane, tumangkula yen dipun dukani, bapang den simpangi, ana catur mungkur.” Diambil dari tembang macapat sekar mijil yang artinya terlahir kembali.

Banyak pelajaran baru yang bisa dipetik dari novel ini. Tak selamanya apa yang kita tak suka di awal akan selalu kita benci. Ia bisa menjadi sesuatu yang sangat kita sukai dan takut akan kehilangannya. Pilihan orangtua adalah pilihan yang harus kita pertimbangkan. Bisa jadi pilihan itulah yang terbaik buat kita. Cinta tak selalu memandang kasta dan rupa.

Kisah Sekar Hadi dalam novel ini buktinya. Hadi sang majikan, malah menjatuhkan pilihan hatinya pada Sekar, rewangnya. Padahal di sekitarnya banyak gadis pintar, jelita, kaya nan rupawan. Ajeng, sang dokter, saja sanggup memendam rasa begitu lama untuk Hadi. Move on dari Hadi pun ia butuh waktu lama. Padahal di lain pihak, Airlangga juga sangat menyukainya.
Bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana, namun kuat penggambarannya. Bahkan bisa hanyut menikmati romantisme yang ditebarkan sosok Hadi pada Sekar, hampir di sepanjang cerita.

Sekar yang meski hanya anak rewang, digambarkan memiliki kemauan yang kuat serta teguh pendirian. Namun Sekar tetaplah gadis jawa, yang pemalu, baik perangainya, dan andhap asor. Wajar jika Hadi memendam rasa sejak lama.

Awalnya, saya pikir, Sekar akan gentar dengan cobaan yang bertubi-tubi. Jujur saja, saya cukup gemas dengan penggambaran tingkah laku Ajeng. Perempuan berpendidikan tinggi, kok ndak punya ewuh pekewuh.

Dengan jelasnya, ia mengganggu kehidupan rumah tangga orang. Ia rela melakukan apapun demi memenuhi nafsunya.

Momen yang paling menyedihkan adalah saat di mana Sekar kehilangan diri mas Hadi yang bijaksana dan berwibawa. Digambarkan bagaimana dulunya Hadi Suwito adalah sosok yang cekatan dan tampan, lalu bertransformasi menjadi orang yang duduk di kursi roda dan hanya menunggu untuk dilayani saja.

Sampai akhirnya kalimat demi kalimat yang dilontarkan Sekar bisa mengembalikan kepercayaan diri suaminya lagi.

Cerita dalam novel ini sangat dekat dalam keseharian. Sangat mungkin terjadi pada kehidupan pernikahan siapapun. Wejangan-wejangan simbok, menjadi nilai tambah novel ini. Penggambaran simbok yang khas wanita Jawa sangat menarik untuk dicoba dimengerti.
Dalam novel ini, penulis mencoba mengenalkan budaya Jawa terutama batik, peralatan batik, khususnya canting. Nilai filosofi yang terkandung di dalamnya aplikatif diterapkan dalam kehidupan, bahwa manusia ibarat canting yang hendak melukis keindahan di atas kain mori putih. Ada banyak cara dan motif untuk melukiskan keindahan di atasnya.

Makin penasaran kan dengan novel Canting ini? Saran saya segeralah membaca dan rasakan keseruan di dalamnya.


#TantanganODOP-ReveiwNovelCanting
#ODOP_6
#KelasFiksiODOP6




4 komentar:

  1. Saya sering lihat cover novel ini berseliweran di instagram, tapi baru baca reviewnya kali ini. Sepertinya menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik bgt, Mba. Banyak pake filsafat Jawa tpi keren 😍😍

      Hapus
  2. Pinjem dong mba bukunya.... 😁✌️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini, main ke Purbalingga. Aq dapet doorprice Novel Canting pas ikut Jumpa Penulis 2 kemarin.

      Hapus