Salah Sasaran


Oleh: Jullie Yuli

Awalnya kupikir aku akan susah move on dari mantan kekasihku, Arga. Pria yang pendiam berkaca mata tebal itu berhasil membuatku jatuh cinta hanya dalam beberapa kali pertemuan kami di kampus. Dia cerdas, rajin, dan ringan tangan. Arga tak akan sungkan membantu orang lain meskipun itu orang yang baru dikenalnya. Kurasa itulah alasanku mencintanya.

Tetapi apa yang diperlihatkan Arga sebulan yang lalu sungguh di luar dugaan. Dia selingkuh di belakangku. Aku melihat sendiri adegan berciuman antara dirinya dan Keisha, teman sekampus kami.

Melihat itupun, aku yang seharusnya marah-marah malah memilih meninggalkan arena sebelum mereka menyadari keberadaanku. Hatiku terluka itu pasti, tapi aku juga tak mau mempermalukan diri dengan melabrak mereka berdua.

"Kita jalan masing-masing, Na. Aku enggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini," ucap Arga, selang sehari aku memergokinya. 

Keren! Padahal seharusnya aku yang memutuskannya, tetapi dia mendahuluiku.

"Oke." Aku menjawab singkat karena sudah terlalu muak dengannya.

"Cuma itu, Na? Kamu langsung setuju?" tanya Arga tak percaya.

"Lalu kamu pikir aku mesti bagaimana, Ga? Nangis-nangis gitu? Terus nahan kamu supaya tetap bareng aku sementara kamu di belakangku ada affair dengan Keisha," jawabku penuh emosi. "Kamu kalau mau pergi ya pergi saja, enggak usah repot-repot menjelaskan apapun.

"Alana ...."

"Pergi! Aku bilang pergi dari sini! Aku muak lihat kamu," desisku.

**

Aku masih terus aktif di kegiatan kampus meski sedikit patah hati. Hidup masih terus berjalan meski tanpa Arga sebagai kekasih, jadi aku tak mau berlama-lama meratapi nasib dan harus bisa membuka hati.

Pertemuanku dengan kak Kafka di acara penggalangan dana untuk korban gempa Palu, Sigi dan Donggala membuatku penasaran pada dirinya. Sosok tegas berwibawa yang memimpin acara itu begitu memancarkan pesona. Kurasa aku akan berusaha mendekatinya. Siapa tahu dia bisa jadi jodohku bukan?

"Vi, coba deh lihat kak Kafka," ucapku seraya menunjuk ke arah pria itu

"Kenapa, Na?" tanya Vivi.

"Ganteng banget gitu, Vi. Kira-kira sudah punya pacar belum ya?"

"Jangan macam-macam deh, Na!"

"Lho, emang kenapa? Kali aja dia mau jadi pacarku. Aku sekarang free lho, Vi," tunjukku ke dadaku sendiri.

"Kafka itu suami tanteku, Nira. Nah tante Nira itu orangnya galak banget. Emang kamu mau dicincang sama tante Nira." Jawaban Vivi membuat nyaliku menciut.

"Hehe ... enggak, Vi."

**End**

#ODOP_6
#KelasFiksiODOP6
#FiksiBebas

4 komentar: