Semangat Bara


Oleh: Jullie Yuli


Aku berlari kencang agar bisa segera sampai ke rumah. Iya, rasanya aku sudah tak sabar membagikan kabar gembira yang baru kuterima kepada bundaku tersayang. 

Setelah rutin mengikuti pelatihan sepak bola selama beberapa bulan, aku terpilih mengikuti seleksi lanjutan Liga Pelajar U-16 yang nantinya akan dipilih lagi yang akan mengikuti Training Camp U-16 di Jakarta. Menjadi pesepak bola profesional cita-citaku.

"Nanti saya tanyakan dulu ke Bara ya, Pak. Ini semua menyangkut kehidupannya, jadi saya tidak mau gegabah mengambil keputusan sendiri." Suara bunda terdengar olehku. Aku baru saja tiba di depan rumah tapi urung melangkah masuk karena mendengar percakapan bunda dengan seorang pria tua.

"Tidak bisa! Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, Bara harus ikut aku!" ucap pria itu tegas.

"Tapi, Pak ...."

Aku menerobos masuk ke rumah dengan amarah. Siapa dia berani-beraninya mengatur kehidupanku. Rasanya inginku keluarkan semua amarahku kepada pria itu.

"Apa maksud Anda berkata seperti itu? Anda tidak berhak mengatur kehidupan saya seenaknya." Aku menatap matanya yakin.

"Bara, jangan berkata kasar begitu. Beliau adalah kakekmu juga, ayah dari ayahmu," ucap Bunda lirih.

"Oh iya? Mengapa baru sekarang muncul, setelah saya sebesar ini dan Bunda sendirian merawat saya dari bayi." Aku tahu dari cerita bunda bahwa keluarga ayah adalah keluarga terpandang dari Jakarta. Kakek tidak menyetujui hubungan ayah dan bunda sehingga mengusahakan berbagai cara agar ayah bunda berpisah. Ayah akhirnya meninggal karena sakit-sakitan dan ibu harus berjuang sendirian untuk membesarkanku.

"Bara, Kakek minta maaf. Kakek sudah banyak berbuat salah kepada kamu dan ayah bundamu. Oleh karena itu Kakek berniat membawamu ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di sana. Kakek tidak akan melarang kegiatan sepak bolamu, kakek akan selalu mendukung kamu. Semuanya. Kakek mau semua yang terbaik untuk kamu."

"Termasuk untuk mengikuti Camp Training seleksi masuk Timnas U-16?" tanyaku sangsi.

"Iya, kakek akan dukung kamu." Kakek meraih tanganku dan menepuknya perlahan.

"Bunda ...." Aku bertanya kepada Bunda lewat isyarat mata dan dibalas dengan anggukan kepala.

Alhamdulillah kabar gembira untukku datang bertubi-tubi hari ini.

**end**


#ODOP_6
#Fiksi

0 komentar:

Posting Komentar