Satu Episode di Taman Kota


Oleh: Jullie Yuli

Aku memarkirkan sepedaku di tepi jalan. Di depan tembok dengan gambar grafiti yang didominasi warna kuning dan hijau. Warna kesukaanku.

Sore ini, taman kota terlihat ramai. Bocah-bocah kecil berlarian ke sana kemari  sambil mengembangkan senyuman. Sebagian dari mereka ada yang bermain ayunan, jungkat-jungkit, dan berbagai wahana permainan lain yang telah disediakan. Sementara itu, barisan para ibu berkumpul di gazebo yang terletak di tengah taman.

Aku bergegas menuju ke bangku panjang di sisi barat taman. Seperti biasa, bangku itu kosong. Entah kenapa spot itu tidak diminati pengunjung. Mungkin karena ada aura mistis dari pemakaman yang terletak di balik pagar pembatas taman sebelah barat. Namun bagiku, bangku panjang itu adalah tempat terbaikku untuk menyalurkan hobiku menulis.

"Na, tunggu!" Suara seorang lelaki menghentikan langkah kakiku.

"Krisna, kok kamu ke sini? Ada acara apa?" tanyaku penuh tanda tanya. Rasanya taman kota tidak termasuk tempat yang jadi pilihan Krisna untuk sekadar menghabiskan waktu.

"Sengaja, mau ketemu kamu."

"Kamu nguntit aku, Kris?"

"Iya," jawabnya tegas. Aku berusaha mengabaikannya dan duduk di bangku panjang.

"Ayolah, Na. Mau sampai kapan kamu menghindari aku?" Krisna menghampiriku seraya meraih tanganku.

"Kita sudah selesai, Kris. Enggak usah diungkit-ungkit lagi deh," ucapku tak suka.

"Na, aku kan udah minta maaf. Kejadian tempo hari itu aku khilaf. Aku menyesal. Kita balikan lagi ya, Na."

"Enggak bisa. Aku sudah punya pengganti kamu, Kris."

"Secepat itu, Na? Atau jangan-jangan kamu dulu yang berselingkuh sebelum memergokiku?" Krisna geram melihatku tapi aku tak mau ambil pusing.

Aku menoleh ke arah pagar barat dan melihat lelaki itu. Lelaki tampan yang menemaniku di taman ini selama beberapa hari. Dia Dion. Seperti biasa dia memakai pakaian serba hitam tapi bagiku itu semakin memancarkan aura ketampanannya.

"Aku kenal dia belum lama kok. Baru beberapa hari tapi aku sudah merasa klik dengannya. Kamu lihat di sebelah sana, itu dia sudah datang." Aku menunjuk arah pagar sebelah barat.

"Mana, Na? Enggak ada orang di situ?" tanya Krisna bingung.

"Itu di sana, Kris. Dion tersenyum melihatku. Manis banget," ucapku seraya melengkungkan bibir memandang Dion.

"Na, enggak ada orang di sebelah sana."

"Ada Dion di sana, Kris. Lihat bener-bener coba! Dia mau ngajak aku pergi dari sini." Aku beranjak dari bangku panjang tapi tertahan karena cekalan tangan Krisna

"Na, sadar, Na! Istigfar!" seru Krisna seraya melantunkan ayat Kursi ke telingaku. Seketika aku merasa tubuhku lunglai di dekapan Krisna.

**end**

#KomunitasOneDayOnePost
#ODOP6
#KelasFiksiODOP6
#Fiksi







0 komentar:

Posting Komentar